Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Dalam dunia logika dan filsafat, manusia sering terjebak dalam dua lubang gelap saat mencoba memahami Zat yang Maha Tak Terbatas. Ada yang terlalu "membumikan" Tuhan hingga membayangkan-Nya seperti manusia (Tasybih), dan ada yang trlalu "mengabstrakkan" Tuhan hingga seolah-olah Dia tidak memiliki sifat dan tidak hadir (Ta’thil). Wasathiyah dalam akidah adalah oase di tengah padang pasir kebingungan ini. Ia mengajak jiwa kita untuk meyakini bahwa Allah itu dekat dan memiliki sifat mulia, namun keagungan-Nya tidak mungkin setara dengan keterbatasan makhluk. Inilah keseimbangan yang membuat hati tenang: merasa diawasi tanpa perlu menghayalkan rupa.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

تَفَكَّرُوا فِي خَلْقِ اللهِ ، وَلَا تَتَفَكَّرُوا فِي اللهِ

"Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah, dan janganlah kalian berpikir tentang Zat Allah (karena kalian tidak akan mampu)." (HR. Abu Nu’aim)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan moral dari menjaga akidah yang lurus adalah Rendah Hati. Jika kita sadar bahwa akal kita memiliki batas dalam memahami Sang Pencipta, maka seharusnya kita tidak sombong dalam menilai sesama ciptaan-Nya. Jangan sampai kita menjadi "Tuhan-Tuhan kecil" yang merasa paling tahu isi hati orang lain atau berhak menentukan nasib akhir seseorang.

Dahulu, ada seorang Badui (orang desa) yang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah Tuhan kita tertawa?" Rasulullah menjawab, "Iya." Mendengar itu, si Badui tersenyum lebar dan berkata dengan tulus, "Kalau begitu, kita tidak akan pernah kehabisan kebaikan dari Tuhan yang bisa tertawa." Lihatlah kepolosan iman ini. Dia tidak sibuk bertanya "bagaimana" tertawanya Allah (Tasybih), tidak pula menolak sifat itu (Ta'thil). Dia hanya yakin bahwa Tuhannya Maha Baik. Inilah iman yang menyejukkan.

Bayangkan Anda mencoba melihat Matahari. Jika Anda menatapnya langsung tanpa pelindung, mata Anda akan buta karena terlalu terang (Tasybih—memaksakan akal melihat yang tak terjangkau). Namun, jika Anda masuk ke dalam gua yang sangat gelap dan menutup mata, Anda akan kedinginan karena kehilangan hangatnya matahari (Ta'thil—meniadakan kehadiran Tuhan). Wasathiyah adalah merasakan hangat dan cahayanya yang masuk lewat celah jendela; kita tahu matahari itu ada, kita merasakan manfaatnya, tapi kita sadar mata kita tak sanggup menatap zatnya secara langsung.

Ada seseorang yang terlalu filosofis bertanya kepada seorang guru, "Guru, kalau Allah tidak serupa dengan makhluk, lalu bagaimana cara Allah mendengar doa saya?" Sang Guru menjawab santai, "Sederhana saja. Seperti kamu memakai aplikasi pesan singkat. Kamu kirim pesan dari HP-mu, pesan itu sampai ke HP temanmu. Apakah kamu perlu menjadi sinyal atau menjadi satelit untuk tahu cara pesannya sampai? Tidak, kan? Kamu cukup yakin tombol 'kirim' sudah dipencet. Begitu juga doa; tugasmu kirim, tugas Allah mengabulkan. Jangan repot mengurusi cara kerja satelit-Nya langit!"

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, lawan dari Wasathiyah akidah adalah Tasybih (menyerupakan) dan Ta’thil (meniadakan). Mari kita jaga hati kita di tengah-tengah: menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakan-Nya dengan apapun. Dengan begitu, kita beribadah kepada Allah yang nyata di hati, namun tetap Maha Agung di atas segala imajinasi.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie