Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita merasa rindu untuk duduk tenang di majelis ilmu, menghafal baris demi baris Al-Qur'an, atau mendalami kitab-kitab ulama? Namun, kenyataan hidup berbicara lain. Begitu bangun pagi, rentetan tugas rumah tangga sudah menanti. Belum lagi urusan pekerjaan kantor yang menguras tenaga dari pagi hingga sore, ditambah urusan pekerjaan sampingan demi menopang ekonomi keluarga. Hambatan eksternal berupa tugas luar, tanggung jawab rumah tangga, dan tuntutan pekerjaan ini sering kali membuat kita menghela napas panjang dan berbisik lirih, "Ya Allah, kapan saya punya waktu untuk belajar agama-Mu?"

Secara manajemen waktu modern (time management), benturan prioritas sering kali menimbulkan tekanan mental (stress). Namun secara spiritual, Islam melihat bahwa mengurus rumah tangga dan mencari nafkah yang halal adalah bagian dari ibadah yang agung. Ilmu di dalam Islam tidak menuntut kita untuk meninggalkan dunia secara total, melainkan mengajarkan kita untuk membawa ilmu ke dalam setiap aktivitas duniawi tersebut.

Mari kita sejukkan jiwa kita dengan firman Allah SWT yang memuji orang-orang yang sibuk berniaga dan bekerja, namun hati mereka tetap terkoneksi dengan mengingat Allah dan menuntut ilmu syariat:

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ

"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang." (QS. An-Nur: 37)

Bagi kita yang tubuhnya lelah bekerja namun hatinya tetap haus akan ilmu, Rasulullah SAW memberikan jaminan bahwa selama niat kita jujur, langkah kita dalam mengurus tanggung jawab hidup pun bisa bernilai pahala setara dengan jihad dan menuntut ilmu:

مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلَالًا اسْتِعْفَافًا عَنِ الْمَسْأَلَةِ، وَسَعْيًا عَلَى أَهْلِهِ، وَتَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ، لَقِيَ اللَّهَ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

"Barangsiapa mencari dunia secara halal dengan tujuan menjaga diri dari meminta-minta, berusaha mencukupi keluarganya, dan berbuat baik kepada tetangganya, maka ia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dengan wajah yang bersinar seperti bulan di malam purnama." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan Moral yang Tinggi:

Menuntut ilmu tidak harus selalu duduk bersila di masjid selama 24 jam. Ketika Anda mendengarkan kajian melalui earphone sambil memasak di dapur, menyimak audio kitab saat menyetir di tengah kemacetan, atau membaca satu lembar tafsir sebelum membuka toko, Anda sudah tercatat sebagai penuntut ilmu. Keberkahan ilmu terletak pada kualitas kesungguhan di sela kesibukan, bukan pada lamanya waktu luang.

Mari kita renungkan kisah seorang ayah di masa kini yang bekerja sebagai buruh kasar demi membiayai sekolah anak-anaknya dan pengobatan istrinya yang sakit. Setiap hari, ia memeras keringat di bawah terik matahari. Di kantong bajunya yang lusuh dan basah oleh keringat, selalu ada sebuah buku saku kecil berisi kumpulan hadis-hadis pendek.

Suatu sore, di dalam angkutan umum yang padat dan bising saat pulang kerja, ia tampak tertidur tegak karena kelelahan, namun tangannya masih menggenggam erat buku saku tersebut. Air matanya menetes pelan di atas lembar buku itu saat ia terbangun, lalu ia berbisik dalam doanya, "Ya Allah, maafkan hamba-Mu yang miskin waktu ini. Tubuh hamba milik majikan hamba sejak pagi hingga petang, maka terimalah sisa waktu di malam hari ini untuk membaca syariat-Mu." Sungguh pemandangan yang menyayat hati, sekaligus tamparan bagi kita yang memiliki banyak waktu luang namun habis hanya untuk menonton hiburan yang sia-sia.

Belajar di tengah kesibukan kerja dan urusan rumah tangga itu ibarat kita sedang berburu diskon belanja di supermarket (flash sale). Orang yang punya banyak waktu luang itu seperti orang kaya yang bisa jalan-jalan santai di mall dari pagi sampai malam; semua barang dilihatin satu-satu.

Nah, sedangkan kita para pejuang kerja? Kita ini seperti orang sibuk yang cuma punya waktu lima menit pas jam istirahat kantor buat menyerbu barang diskon! Karena waktunya cuma lima menit, kita jalannya cepat, matanya tajam, begitu dapat barangnya langsung didekap erat-erat jalannya setengah lari!

Pertanyaannya: mana yang lebih menghargai barang belanjaan itu? Pasti kita yang cuma punya waktu lima menit! Begitulah tamsilan ilmu. Karena waktu kita sempit—cuma 10 menit sebelum tidur atau 15 menit saat istirahat kerja—kita akan membaca ilmu itu dengan super fokus dan menghargainya setengah mati. Ilmu yang sedikit itu akan didekap erat di dalam dada, diamalkan, dan menjadi penyejuk jiwa yang luar biasa. Jadi, sibuk itu bukan alasan zonk ilmu, tapi alasan untuk jadi pemburu ilmu kelas kilat yang cerdas!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia,, jangan pernah jadikan tugas luar, pekerjaan, atau tanggung jawab rumah tangga sebagai kambing hitam untuk berhenti belajar. Nafkah yang kamu cari adalah kewajiban, dan ilmu yang kamu tuntut adalah kebutuhan ruhanimu. Rahasianya adalah manfaatkan waktu-waktu sempit. Ikatlah ilmu di sela-sela kesibukanmu.

Jika hari ini Anda hanya mampu membaca satu ayat atau mendengarkan satu potong nasihat pendek karena lelahnya pekerjaan, bersyukurlah dan istiqomahlah. Karena di hadapan Allah, sedikit amal yang konsisten di tengah badai kesibukan jauh lebih dicintai daripada banyak amal yang dilakukan hanya saat sempat saja.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie