Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, di era digital ini, semua orang berlomba-lomba menaikkan engagement, followers, atau status sosial di mata manusia. Namun, tahukah kita apa investasi terbaik untuk menaikkan derajat kita langsung di hadapan Sang Pencipta Jagat Raya?

Jawabannya adalah Ilmu. Ilmu bukan sekadar tumpukan teori di dalam buku, melainkan cahaya yang menerangi jalan bagi jiwa yang haus akan kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berjanji dalam Al-Qur'an:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Derajat yang Allah berikan kepada ahli ilmu bukan sekadar kedudukan di dunia, melainkan kemuliaan yang membentang hingga ke surga. Mengapa? Karena dengan ilmulah kita bisa mengenal Allah (ma'rifatullah), memahami cara beribadah yang benar, dan menebar manfaat bagi semesta.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan betapa agungnya jalan menuntut ilmu:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Ilmu adalah satu-satunya harta yang jika dibagikan tidak akan berkurang, justru kian bertambah. Pesan moralnya jelas: Jangan pernah berhenti menjadi pembelajar. Derajat tinggi di sisi Allah tidak diraih dengan bersantai, melainkan dengan kesungguhan, kerendahan hati untuk terus belajar, dan keikhlasan dalam mengamalkannya.

Mari kita kenang kisah Imam Syafi’i rahimahullah saat masih kecil. Beliau adalah seorang anak yatim yang tumbuh dalam kemiskinan ekstrem. Saking tidak mampunya sang ibu membeli kertas, Imam Syafi’i kecil harus memungut tulang-belulang, pelepah kurma, dan tembikar pecah di jalanan hanya untuk mencatat hadis-hadis Nabi.

Suatu malam, di bawah remang-remang cahaya lampu minyak tetangga yang ia "tumpangi", beliau menangis bukan karena lapar, melainkan karena takut hafalan ilmunya hilang. Kegigihan air mata dalam kemiskinan itulah yang hari ini mengangkat nama beliau. Berabad-abad setelah beliau wafat, jutaan manusia di seluruh dunia masih menyebut namanya dengan penuh hormat. Allah benar-benar mengangkat derajatnya!

Bayangkan ilmu itu seperti mata air di puncak gunung. Airnya yang jernih akan mengalir ke bawah, membasahi tanah yang kering, menumbuhkan pepohonan, dan memberi minum makhluk hidup di sekitarnya.

Orang yang berilmu adalah puncak gunung tersebut. Dia kokoh, tinggi, dan menjadi sumber kehidupan bagi lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, orang yang enggan mencari ilmu ibarat tanah tandus di tengah gurun—gersang, tidak menghasilkan apa-apa, dan melelahkan siapa saja yang melewatinya.

Ngomong-ngomong soal ilmu, zaman sekarang ini ada fenomena unik. Banyak orang yang merasa "paling berilmu" hanya bermodalkan baca judul artikel di media sosial atau nonton potongan video 15 detik. Begitu ada diskusi, langsung ketik komentar sepanjang kereta api dengan penuh emosi.

Ada pepatah bilang: "Orang yang berilmu itu seperti padi, kian berisi kian merunduk." Nah, kalau yang kian berisi kian berisik, itu bukan padi, sahabat... itu tong kosong alias kaleng kerupuk!

Hikmahnya, ilmu itu menenangkan jiwa dan membuat kita bijaksana, bukan membuat kita hobi mencari kesalahan orang lain di kolom komentar.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, mengejar gelar duniawi itu baik, tetapi mengejar derajat di sisi Allah lewat ilmu agama dan kemanfaatan hidup adalah jauh lebih utama. Orang yang mengejar dunia, dunianya belum tentu dapat, akhiratnya pasti luput. Namun, orang yang berilmu dan mengejar akhirat, maka Allah akan mengangkat derajatnya di dunia sekaligus mempermudah jalannya menuju surga.

Mari kita luruskan niat kita hari ini. Mari manfaatkan gawai (gadget) kita bukan untuk hal yang sia-sia, melainkan sebagai sarana menuntut dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing hati kita, menambahkan ilmu yang bermanfaat, dan mengumpulkan kita bersama para kekasih-Nya di surga kelak.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie