Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, ketika biaya pendidikan, harga kitab-kitab fisik, dan akses menuju ruang belajar semakin mahal, maka kaum duafa dan anak-anak miskin akan menjadi pihak pertama yang terpinggirkan dari panggung keilmuan. Secara ilmiah dalam teori diseminasi informasi dan digitalisasi pendidikan, solusi paling radikal dan efisien untuk mengatasi kesenjangan finansial ini adalah dengan menyediakan materi gratis atau sangat murah. Melalui pemanfaatan teknologi—seperti membagikan kitab digital (e-book), memproduksi video pembelajaran gratis di media sosial, serta membuka majelis ilmu yang bebas biaya pendaftaran—kita sedang melakukan demokratisasi ilmu. Ketika ilmu disebarkan secara inklusif tanpa tarif, kita sedang menghancurkan dinding pembatas ekonomi dan memberikan hak yang sama bagi setiap jiwa untuk tumbuh cerdas.

Islam adalah agama yang mengutuk keras tindakan menyembunyikan atau mengomersialkan ilmu hingga menutup akses bagi orang-orang yang membutuhkannya. Menggratiskan materi pengajaran bagi yang tidak mampu adalah sedekah jariyah yang jangkauannya menembus batas ruang dan waktu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mengecam orang-orang yang menyembunyikan kebenaran dan ilmu pengetahuan yang seharusnya mengalir menjadi petunjuk bagi umat manusia:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآ أَنزَلْنَا مِنَ ٱلْبَيِّنَٰتِ وَٱلْهُدَىٰ مِنۢ بَعْدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلْكِتَٰبِ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ يَلْعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat." (QS. Al-Baqarah: 159)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga memberikan peringatan yang sangat tegas dalam sebuah hadis tentang bahaya menahan ilmu dari orang yang membutuhkannya:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِجِامٍ مِنْ نَارٍ

"Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, niscaya ia akan dikendalikan (diikat mulutnya) pada hari kiamat dengan tali kendali dari api neraka." (HR. Abu Dawud)

2. Pelajaran dan Pesan

Mari kita bayangkan seorang anak muda di sebuah desa terpencil pasca-bencana. Ia memiliki gairah yang luar biasa untuk mendalami ilmu agama dan bahasa, namun untuk membeli satu buah kitab fisik saja, ibunya harus berutang atau mengorbankan uang belanja makan mereka selama tiga hari. Suatu sore, ia berdiri di depan sebuah toko kitab, memandangi deretan sampul kitab yang indah dari balik kaca dengan mata berkaca-kaca. Ia meraba sakunya yang kosong, lalu melangkah pulang dengan pundak layu sambil menghapus air matanya. Ia merasa dunia ini teramat tidak adil karena ilmu hanya milik orang-orang yang berdompet tebal.

Namun, betapa mengharukannya ketika lembaga pendidikan atau para pemuda penggerak dakwah digital hadir membawa solusi. Mereka membuat sebuah situs web atau saluran media sosial khusus yang menyediakan ratusan tautan unduhan kitab digital gratis, rekaman video penjelasan bab per bab, dan layanan tanya jawab bebas biaya.

Saat anak muda itu menemukan saluran tersebut melalui gawai sederhananya, ia terduduk di sudut kamarnya yang gelap, menangis sejadi-jadinya penuh haru. Malam itu, ia bisa membaca kitab yang ia impikan tanpa harus membuat ibunya kelaparan. Akses gratis tersebut telah menyelamatkan masa depan seorang calon ulama umat.

Sahabat, analoginya seperti sebuah mata air jernih yang memancar di puncak gunung di tengah musim kemarau yang sangat kering. Air itu adalah sumber kehidupan yang dibutuhkan oleh seluruh penduduk lembah yang sedang kehausan. Namun, bayangkan jika sekelompok orang kaya mendirikan pagar beton yang tinggi mengelilingi mata air tersebut, lalu memasang tarif yang sangat mahal bagi siapa saja yang ingin mengambil satu gayung air. Apa yang terjadi? Orang-orang miskin di bawah lembah akan mati kehausan atau terpaksa meminum air kubangan yang kotor dan beracun.

Ilmu pengetahuan adalah mata air kehidupan itu. Menjual materi ilmu dengan harga yang tidak terjangkau oleh kaum duafa sama saja dengan memagari mata air peradaban.

Solusi sejati adalah dengan membangun pipa-pipa paralon digital gratis yang mengalirkan air jernih itu langsung ke rumah-rumah penduduk di bawah lembah. Biarkan setiap orang, baik anak pejabat maupun anak buruh tani, bisa meminum air ilmu itu sepuasnya tanpa perlu membayar sepeser pun.

Ada kisah jenaka tentang seorang bapak di kampung yang ingin sekali belajar mengaji tajwid secara mendalam, tetapi malu karena usianya sudah tua dan tidak punya biaya untuk ikut kursus privat. Kebetulan, ada seorang ustadz muda kreatif yang meluncurkan program video pembelajaran tajwid gratis di platform TikTok dan YouTube yang bisa diakses siapa saja.

Sang bapak setiap malam mengunci diri di kamar, menaruh gawainya di atas bantal, lalu menirukan pelafalan huruf dari video tersebut dengan suara lantang demi memperbaiki bacaannya. "Aaaa... Baaa... Taaa..." teriak sang bapak dari dalam kamar.

Istrinya yang berada di dapur menjadi panik dan mengetuk pintu dengan keras, "Pak! Bapak kenapa teriak-teriak di dalam? Kena penyakit aneh atau sedang kemasukan jin?"

Sang bapak membuka pintu sambil tersenyum lebar dan menunjukkan layar gawainya, "Bukan kemasukan jin, Bu! Ini bapak sedang dimasuki ilmu tajwid gratisan dari ustadz digital! Bayangkan, gratis tissue, gratis kuota belajar, dan yang paling penting: gratis dari rasa malu digoda tetangga karena bapak belajarnya di dalam sarung!"

Sang istri tertawa terpingkal-pingkal mendengar penjelasan suaminya. Cerita lucu ini membawa hikmah yang sangat dalam: pengadaan materi gratis dan mudah melalui media digital bukan hanya memecahkan masalah keuangan, melainkan juga meruntuhkan dinding psikologis berupa rasa minder dan malu bagi orang-orang yang ingin kembali ke jalan ilmu.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahgaia, keterbatasan finansial tidak boleh lagi menjadi alasan klasik yang memenjarakan kecerdasan umat di era modern ini. Solusi konkret dari hambatan eksternal ini ada di tangan kita para pendidik, konten kreator muslim, dan pengelola lembaga: mari sediakan materi belajar secara gratis atau murah. Bagikan kitab digital, buatlah video edukasi yang bermutu tinggi tanpa dikunci oleh akun berbayar, dan hidupkan majelis-majelis ilmu yang bebas biaya. Ketika kita membebaskan biaya ilmu bagi hamba-hamba Allah yang membutuhkan, yakinlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala akan melipatgandakan rezeki dan keberkahan hidup kita dari jalan yang tidak pernah kita duga.

Mari kita jadikan teknologi digital sebagai jembatan berkah yang mengalirkan cahaya ilmu ke seluruh penjuru bumi tanpa sekat ekonomi.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie