Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

.1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita berada di sebuah majelis ilmu atau kelas, ingin sekali bertanya atau menjawab, tapi mendadak jantung berdebar kencang, keringat dingin keluar, dan lidah kelu? Lalu muncul bisikan di kepala: "Jangan tanya, nanti dikira bodoh," atau "Jangan jawab, nanti kalau salah diketawain." Hambatan internal berupa ketidakpercayaan diri dan rasa takut salah ini sering kali menjadi penjara gaib yang membelenggu potensi besar di dalam diri kita

Secara psikologis, rasa takut salah adalah bentuk dari perfectionism negatif yang keliru. Kita merasa harus selalu terlihat benar di depan manusia. Padahal, secara spiritual, proses belajar di dalam Islam justru menghargai setiap kekeliruan yang lahir dari niat yang tulus. Salah dalam proses belajar bukanlah sebuah dosa atau aib, melainkan satu anak tangga wajib menuju kebenaran.

Mari kita tenangkan jiwa kita dengan firman Allah SWT yang menegaskan bahwa ketidaktahuan adalah kodrat awal manusia, dan bertanya adalah kuncinya:

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)

Bahkan, Rasulullah SAW memberikan jaminan yang sangat luar biasa bagi orang yang berusaha memberikan jawaban atau keputusan hukum (berijtihad) dalam belajar, bahwa kesalahan pun tetap diganjar dengan pahala oleh Allah SWT:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

"Jika seorang hakim memutuskan perkara lalu ia berijtihad (bersungguh-sungguh) kemudian benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan jika ia memutuskan perkara lalu ia berijtihad kemudian salah, maka ia tetap mendapatkan satu pahala." (HR. Bukhari)

2. Pelajaran dan Pesan

Malu yang dipuji dalam Islam adalah malu untuk berbuat maksiat, bukan malu untuk menuntut ilmu. Mengorbankan pemahaman demi menjaga gengsi di hadapan manusia adalah salah satu bentuk kerugian terbesar dalam hidup. Keberanian untuk mengakui "saya belum tahu" adalah awal dari segala kebijaksanaan.

Ada sebuah kisah tragis di zaman Rasulullah SAW tentang seorang sahabat yang terluka di kepalanya saat berperang. Di malam harinya, ia bermimpi basah. Pagi harinya, karena merasa takut salah dan tidak percaya diri untuk mengambil keputusan sendiri, ia bertanya kepada sahabat-sahabat di sekitarnya, "Apakah ada keringanan bagiku untuk bertayammum?" Sahabat yang ditanya menjawab dengan kaku tanpa ilmu, "Tidak ada keringanan bagimu karena kamu masih mampu menggunakan air."

Akhirnya, karena takut dianggap membangkang, pemuda itu pun mandi wajib dengan air. Luka di kepalanya terkena air, infeksi parah, dan ia pun meninggal dunia. Ketika kabar ini sampai ke telinga Rasulullah SAW, beliau sangat sedih dan marah, lalu bersabda: "Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membalas mereka! Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak tahu? Sesungguhnya obat dari kebodohan itu adalah bertanya!" Kisah pilu ini menjadi pelajaran mahal bahwa rasa takut bertanya dan ketidakpercayaan diri bisa berakibat fatal bagi kehidupan.

Takut salah saat menuntut ilmu itu ibarat kita baru pertama kali belajar naik sepeda. Namanya juga belajar naik sepeda, ya pasti ada momen olengnya, nabrak pot bunga tetangga, atau bahkan jatuh kejengkang ke dalam got. Itu wajar dan alamiah!

Nah, bayangkan kalau ada orang yang duduk di atas sepeda, tapi diam saja tidak mau mengayuh pedalnya sama sekali selama bertahun-tahun. Pas ditanya, "Kenapa gak jalan, Bang?" Dia jawab, "Saya takut jatuh, Mas, malu dilihat orang." Lah, kalau takut jatuh terus gak mau ngayuh, sampai Hari Lebaran monyet pun dia gak bakal pernah bisa naik sepeda!

Begitu juga dalam menuntut ilmu. Lebih baik kita "jatuh kejengkang" karena salah menjawab di kelas lalu diperbaiki oleh guru, daripada kita sok keren duduk diam di pojokan dengan muka misterius sok tahu, tapi aslinya otaknya zonk alias kosong melompong.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , buang jauh-jauh rasa minder itu. Ketahuilah bahwa para ulama besar terdahulu pun sering berkata, "Lailma 'indii" (Aku tidak tahu) ketika ditanya masalah yang belum mereka kuasai. Salah dalam belajar adalah bukti bahwa kita sedang berproses dan mencoba, sedangkan tidak pernah salah hanya milik mereka yang tidak pernah melakukan apa-apa.

Mulai hari ini, jika ada hal bermanfaat yang belum kita tahu, angkat tanganmu dengan bangga dan bertanyalah. Karena di dalam Islam, tidak ada tempat bagi kesombongan untuk merasa sudah tahu, dan tidak ada tempat bagi rasa minder untuk takut belajar.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie