Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, ketika sekat finansial menghadang langkah anak-anak kita untuk menuntut ilmu, sebuah lembaga pendidikan atau komunitas tidak boleh merasa harus memikul seluruh beban itu sendirian. Secara ilmiah dalam ilmu manajemen strategis dan sosiologi kelembagaan, solusi paling akurat untuk mengatasi keterbatasan dana adalah dengan membangun kemitraan strategis (strategic partnership) atau berkolaborasi dengan lembaga penyedia bantuan pendidikan. Baik itu baitul mal, lembaga zakat, yayasan kemanusiaan nasional, maupun lembaga sponsor internasional. Ketika sebuah institusi membuka diri untuk saling bersinergi dan berbagi beban (resource sharing), keterbatasan finansial yang tadinya tampak seperti tembok tebal yang mustahil ditembus, akan berubah menjadi pintu-pintu kemudahan yang terbuka lebar.
Islam adalah agama yang meletakkan fondasi peradabannya di atas prinsip ta'awun—yaitu saling tolong-menolong dan berkolaborasi dalam kebaikan. Menyatukan potensi satu lembaga dengan lembaga donasi lainnya adalah wasilah yang berkah untuk melahirkan kekuatan besar yang mandiri demi menyelamatkan pendidikan umat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dengan sangat tegas mengenai perintah untuk saling berkolaborasi dalam setiap lini kebaikan dan ketakwaan:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan kaum mukmin jika mereka mau saling mengokohkan dan berkolaborasi layaknya sebuah bangunan yang tidak terpisahkan:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
"Seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan satu bangunan yang kuat, sebagiannya saling mengokohkan bagian yang lain." (HR. Bukhari)
2. Pelajaran dan Pesan
Mari kita bayangkan sebuah yayasan pendidikan atau madrasah di pelosok daerah yang baru saja diterjang ujian berat, di mana sarana belajarnya rusak dan kas lembaganya kosong. Di ruangan kantor darurat, pengurus lembaga duduk terpekur menahan tangis. Di hadapannya menumpuk berkas anak-anak yatim dan kaum duafa yang terancam tidak bisa melanjutkan sekolah karena lembaga sudah tidak mampu lagi menyubsidi biaya operasional mereka. Suasana begitu menyesakkan dada; rasanya impian untuk melahirkan generasi penghafal Al-Qur'an dan ilmuwan handal di tempat itu akan tamat hari itu juga.
Namun, keajaiban kolaborasi menghapus air mata itu. Pengurus tidak menyerah, mereka merapikan data lalu melangkah berkolaborasi dengan lembaga-lembaga kemanusiaan dan baitul mal yang memiliki akses dana pendidikan.
Ketika nota kesepahaman (MoU) kemitraan ditandatangani, dan lembaga mitra berkata, "Bismillah, mulai bulan ini seluruh biaya operasional anak-anak yatim di sini kami yang penuhi," tangis haru meledak di ruang tersebut. Kepala madrasah bersujud syukur dengan air mata yang membasahi lantai karpet. Kolaborasi antar-lembaga itu telah menjadi tangan penolong dari langit yang menyambung kembali urat nadi pendidikan yang hampir mati.
Sahabat, analoginya seperti sebuah mobil ambulans yang sedang membawa pasien kritis di tengah malam, namun tiba-tiba kehabisan bahan bakar di jalur tanjakan yang sepi. Sopir ambulans tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli bensin, sementara tangki bahan bakarnya benar-benar kering. Jika ambulans itu dipaksa berjalan sendirian, ia akan mandek, dan nyawa pasien di dalamnya terancam tidak tertolong.
Tetapi, apa yang terjadi jika di belakangnya datang sebuah truk besar milik lembaga penyelamat? Truk itu tidak memiliki ruang untuk membawa pasien, tetapi mereka memiliki bahan bakar yang melimpah dan seutas tali baja yang sangat kuat.
Ketika truk itu mengikatkan tali bajanya ke bemper depan ambulans, lalu menariknya bersama-sama mendaki tanjakan menuju rumah sakit, pasien itu pun selamat. Kolaborasi dengan lembaga bantuan pendidikan adalah proses "mengikatkan tali ke truk penyelamat" tersebut. Lembaga pendidikan kita memiliki "pasien" bernama masa depan anak didik, dan lembaga bantuan memiliki "bahan bakar" finansial. Satukan keduanya, maka kendaraan dakwah ini akan melesat aman sampai ke tujuan.
Ada cerita unik dari seorang ustadz pengelola pesantren kecil yang sedang pusing mencari dana untuk membangun asrama santri yang bocor. Karena modalnya terbatas, beliau memberanikan diri datang mengajukan kolaborasi ke sebuah lembaga zakat besar di kota.
Saat presentasi, karena saking groginya, sang ustadz salah mengucapkan kalimat penutup proposalnya. Beliau berkata, "Demikian proposal kolaborasi ini kami sampaikan. Kami sangat berharap lembaga Bapak sudi 'memasukkan kami ke dalam anggaran kas', agar santri kami tidak perlu lagi 'dimasukkan ke dalam air hujan' setiap malam!"
Pimpinan lembaga zakat itu tertawa terpingkal-pingkal mendengar istilah "dimasukkan ke dalam air hujan" tersebut. Sambil menyeka air mata tawanya, pimpinan itu menjawab, "Tenang Ustadz, demi menyelamatkan santri dari ujian 'hujan portabel' di dalam kamar, hari ini juga proposal pembangunan asrama asri kita setujui lewat program kemitraan!"
Kisah lucu ini membawa hikmah mendalam: jangan pernah malu atau gengsi untuk mengetuk pintu kolaborasi. Keberkahan ilmu dan dakwah ini terlalu luas jika ingin dipikul sendirian; ruang kemitraan itulah yang disediakan Allah agar ego sektoral mencair menjadi berkah yang nyata bagi umat.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan sauadri yang berbahagia, keterbatasan finansial bukanlah akhir dari riwayat perjuangan sebuah lembaga pendidikan, melainkan sebuah ujian koordinasi. Solusi konkret dan elegan dari hambatan eksternal ini adalah dengan aktif berkolaborasi dan merajut kemitraan bersama lembaga-lembaga yang menyediakan bantuan pendidikan. Buang jauh-jauh rasa minder dan sifat menutup diri. Mari kita bangun sinergi yang transparan, akuntabel, dan profesional dengan institusi filantropi umat. Ketika satu hati bertemu dengan hati yang lain dalam ikatan ta'awun, maka seberat apa pun beban keuangan akan terasa ringan, dan jembatan masa depan bagi anak-anak kurang mampu akan terbentang kokoh menuju kejayaan.
Mari kita jalin jemari kolaborasi, demi tegaknya cahaya ilmu di atas bumi pertiwi.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie