Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita merasa terjebak dalam rutinitas harian yang tiada habisnya? Sejak pagi buta kita sudah harus bersiap ke sekolah formal, kampus, atau tempat kerja. Pulang-pulang hari sudah beranjak malam dengan tubuh yang teramat lelah dan pikiran yang penat. Hambatan eksternal berupa jadwal sekolah atau pekerjaan formal yang sangat menyita waktu ini sering kali membuat kita merasa bersalah dan mengeluh, "Ya Allah, habis sudah waktuku untuk urusan dunia, lalu kapan aku bisa fokus mempelajari agama-Mu?"

Secara psikologis dan manajemen aktivitas, kejenuhan akibat jadwal yang padat (burnout) bisa menurunkan motivasi belajar kita. Namun secara spiritual, Islam tidak pernah memisahkan antara ilmu dunia yang bermanfaat dengan ilmu akhirat. Ketika Anda berniat menuntut ilmu formal atau bekerja untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga, maka setiap detik yang menyita waktu Anda itu justru sedang mengalirkan pahala ibadah yang besar, asalkan pondasi niatnya lurus karena Allah.

Mari kita sejukkan jiwa kita dengan firman Allah SWT yang menegaskan bahwa kesibukan mencari karunia-Nya di bumi tidak boleh membuat kita melupakan porsi akhirat kita, melainkan keduanya harus berjalan beriringan:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَن─ ٱللَّهُ إِلَيْكَ

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu..." (QS. Al-Qashash: 77)

Bagi Anda yang merasa waktunya habis di ruang kelas formal atau di tempat kerja, jangan berkecil hati. Rasulullah SAW memberikan jaminan bahwa lelahnya fisik akibat aktivitas formal yang jujur demi kebaikan adalah penggugur dosa yang sangat mustajab:

مَنْ أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ أَمْسَى مَغْفُورًا لَهُ

"Barangsiapa yang di waktu sore merasa kelelahan karena amal usaha yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka di waktu sore itu ia diampuni dosanya." (HR. Al-Mu'jam al-Awsath Thabrani)

2. Pelajaran dan Pesan

Masalah kita sebenarnya bukanlah "tidak ada waktu", melainkan bagaimana kita "memanfaatkan sisa waktu". Jangan menunggu waktu kita benar-benar kosong untuk belajar agama, karena dunia ini tidak akan pernah membiarkan kita kosong. Isilah sela-sela waktu sekolah atau kerjamu dengan niat beribadah, maka aktivitas formalmu akan berubah menjadi majelis ilmu yang panjang.

Mari kita kenang kisah nyata seorang siswa madrasah atau pekerja muda di daerah terpencil yang harus menempuh perjalanan jauh setiap hari demi sekolah formal dan mencari nafkah. Jadwalnya begitu padat dari jam 7 pagi hingga jam 6 sore. Di malam hari, ia masih harus membantu orang tuanya di sawah atau pasar.

Suatu malam, ia ditemukan tertidur di atas meja belajarnya yang reyot dengan kepala berbantalkan buku agama yang terbuka. Di sudut matanya ada sisa air mata yang mengering. Di lembar buku itu, ia sempat menuliskan sebuah catatan kecil sebelum matanya terpejam karena kelelahan: "Ya Allah, hamba sangat ingin menghafal kitab-Mu dan memahami syariat-Mu, tapi siangku telah habis untuk mencari ilmu formal demi masa depan keluarga hamba. Terimalah lelahnya tubuh hamba ini sebagai bukti bahwa hamba tidak berniat melupakan-Mu." Sungguh pemandangan yang menyayat hati, sekaligus tamparan bagi kita yang memiliki banyak waktu luang di sekolah atau tempat kerja yang nyaman, namun energinya habis untuk hal-hal yang sia-sia.

Menuntut ilmu agama di sela-sela padatnya jadwal sekolah atau kerja formal itu ibarat kita sedang memeras jeruk nipis untuk dijadikan minuman yang segar. Orang yang punya waktu luang banyak itu seperti orang yang punya satu keranjang jeruk; dia bisa memerasnya santai pakai mesin pemeras elektrik yang canggih.

Nah, sedangkan kita yang jadwalnya padat merayap? Kita ini seperti orang yang cuma modal satu buah jeruk nipis di tangan, tapi kita peras sekuat tenaga pakai jari-jari kita sampai tetesan terakhir, bahkan sampai kulit-kulitnya ikut kesenggol!

Secara kuantitas, air jeruk kita mungkin cuma sedikit di dasar gelas. Tapi karena diperasnya pakai perjuangan dan keringat, begitu diteteskan ke dalam air dan diminum, rasanya masyaAllah... segar dan nendang banget! Begitulah tamsilan ilmu. Satu ayat yang kamu baca di sela-sela jam istirahat kantor, atau satu hadis yang kamu dengarkan saat naik angkot pulang sekolah, rasanya akan jauh lebih meresap dan mengubah perilakumu daripada orang yang punya waktu 24 jam bebas tapi cuma dipakai buat melamun. Jadi, jadwal padat itu bukan alasan untuk zonk ilmu, tapi alasan untuk jadi "pemeras waktu" yang andal!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , sekolah formal atau pekerjaan yang menyita waktumu bukanlah tembok penghalang untuk mendekat kepada Allah. Jadikan setiap ilmu umum yang kamu pelajari di sekolah sebagai jalan untuk mengagumi keagungan penciptaan Allah. Jadikan setiap peluh di tempat kerjamu sebagai sarana untuk mengamalkan kejujuran syariat.

Jangan biarkan kesibukan duniamu mematikan ruhanimu. Sediakan waktu walau hanya 10 atau 15 menit setiap harinya untuk membuka mushaf atau menyimak nasihat kebaikan. Karena di hadapan Allah, konsistensi amal yang kecil di tengah padatnya badai kesibukan jauh lebih bernilai daripada amal besar yang hanya dilakukan sesekali saja.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie