Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, di era yang serba instan ini, konsistensi atau istiqamah adalah barang mewah. Banyak orang bersemangat memulai, tapi sedikit yang bertahan sampai selesai—terutama dalam urusan menuntut ilmu. Padahal, jalan ilmu memang didesain penuh ujian agar nilainya menjadi mulia.
Secara psikologis dan spiritual, ilmu tidak akan melekat pada jiwa yang hanya mencari kenyamanan. Allah SWT telah menegaskan bahwa proses menerima firman dan ilmu-Nya membutuhkan kesiapan mental yang kokoh.
Allah SWT berfirman:
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat." (QS. Al-Muzzammil: 5)
Sifat ilmu itu 'berat' (tsaqila). Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kunci utama untuk meraih keberkahan ilmu dan amal bukan pada instannya, melainkan pada kesinambungannya.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus (konsisten) meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Ilmu adalah warisan para Nabi. Menuntut ilmu bukan sekadar untuk tahu, melainkan bentuk ibadah. Ketika kita merasa lelah dan sulit dalam belajar, di situlah setiap peluh dan kantuk kita dihitung sebagai pahala jihad di jalan Allah. Jangan menyerah hanya karena hari ini kita belum paham.
Mari kita kenang kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani saat masa mudanya. Beliau sempat putus asa dalam belajar karena merasa otaknya tumpul dan sulit menghafal. Beliau pun pulang. Di tengah jalan, beliau berteduh di sebuah gua dan melihat tetesan air yang jatuh secara konsisten di atas sebuah batu besar. Lama-kelamaan, batu yang keras itu berlubang hanya karena tetesan air yang lembut namun tak pernah berhenti.
Beliau menangis lalu tersadar: “Batu yang keras saja bisa berlubang oleh air, masakan hatiku yang lembut tidak bisa ditembus oleh ilmu?” Beliau kembali belajar dengan konsisten hingga menjadi ulama besar ahli hadis
Menuntut ilmu itu seperti menanam pohon jati. Ia tidak tumbuh dalam semalam seperti tauge. Ia butuh waktu bertahun-tahun, dihantam angin dan hujan, namun akarnya mencengkeram bumi dengan kuat dan batangnya menjadi sangat berharga. Konsistensi adalah pupuknya.
Zaman sekarang, banyak dari kita yang ingin pintar lewat jalur 'jalur langit' tapi malas membaca. Pengennya tidur, lalu pas bangun langsung hafal satu kitab. Akhirnya, ada yang belajar pakai metode "SKS" (Sistem Kebut Semalam), atau yang lebih parah: buku pelajaran dijadikan bantal tidur dengan harapan ilmunya meresap lewat pori-pori sarung bantal.
Tentu saja yang meresap bukan ilmunya, melainkan pola pulau di bantal alias air liur kita! Ilmu itu didatangi dengan kaki yang melangkah dan mata yang terjaga, bukan lewat mimpi indah.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, kesulitan dalam menuntut ilmu adalah ujian seleksi. Apakah kita layak ditinggikan derajatnya oleh Allah atau tidak. Jangan berhenti saat lelah, tetapi berhentilah saat kita sudah paham. Satu halaman setiap hari jauh lebih baik daripada seribu halaman tapi hanya sekali seumur hidup.
Imam Asy-Syafi'I berkata :"Jika kamu tidak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus tahan menanggung pahitnya kebodohan."
Semoga Allah mengkaruniakan kepada kita semua sifat istiqamah dalam menuntut ilmu hingga akhir hayat.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie