Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, di era media sosial hari ini, batasan antara "berbagi inspirasi" dan "pamer" menjadi sangat tipis. Kadang, kita memposting tumpukan buku, sertifikat kelas online, atau gelar akademis hanya demi hitungan likes dan pujian "Wah, kamu hebat ya!".

Mari kita rehat sejenak, menata hati, dan membawa jiwa kita menyelami hakikat menuntut ilmu yang sesungguhnya.

Ilmu dalam Islam adalah cahaya (Nur). Tugas cahaya adalah menerangi jalan yang gelap, bukan untuk membuat mata orang lain silau atau buta karena keangkuhan kita. Jika ilmu dikejar hanya demi urusan duniawi atau pujian manusia (riya'), maka cahaya itu akan berubah menjadi api yang membakar kebaikan kita sendiri.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan kita dalam Al-Qur'an:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan siallah apa yang telah mereka kerjakan."

(Q.S. Hud: 15-16)

Niat yang melenceng ini dipertegas oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan peringatan yang sangat keras:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusanya ditujukan untuk mencari ridha Allah 'Azza wa Jalla, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium wangi surga pada hari kiamat." (H.R. Abu Dawud)

2. Pelajarandan Pesan

Bayangkan ilmu itu seperti air hujan. Air hujan yang murni dan bersih mengalir ke tanah yang subur, menumbuhkan bunga-bunga yang indah dan buah-buahan yang manis untuk dinikmati semua orang. Namun, jika air hujan itu masuk ke dalam wadah yang kotor dan beracun (artinya: hati yang riya’ dan haus pujian), air itu akan berubah menjadi genangan yang berbau busuk dan menjadi sarang penyakit. Ilmu yang berkah membuat pemiliknya merunduk seperti padi, bukan tegak menantang langit seperti ilalang kering.

Pernahkah kita membaca kisah tentang salah satu dari tiga golongan manusia yang pertama kali diseret ke dalam neraka? Salah satunya adalah seorang alim (orang berilmu). Di hadapan Allah, dia berkata, "Ya Allah, aku telah menuntut ilmu dan mengajarkannya demi Engkau." Namun Allah Maha Mengetahui rahasia hati, Allah berfirman: "Kamu bohong! Kamu belajar ilmu hanya supaya orang-orang menjulukimu sebagai orang pintar, dan pujian itu sudah kamu dapatkan di dunia." Betapa hancurnya hati kita, jika lelahnya kita begadang belajar, habisnya harta untuk kuliah dan kursus, justru berujung pada murka-Nya hanya karena kita salah menata niat.

Zaman sekarang, ada fenomena unik. Baru belajar satu-dua dalil di internet, postingannya langsung terasa seperti fatwa ulama besar. Profil medsosnya ditulis: "Pencari Ilmu Syar'i | Hamba yang Fakir". Tapi begitu ada orang yang berbeda pendapat di kolom komentar, langsung ngamuk, jarinya mengetik dengan emosi: "Kamu itu bodoh, belum belajar ya?!" Nah, ini namanya pamer kesalehan tapi lupa memamerkan akhlak. Kita ini mau cari ridha Allah atau mau cari menang berdebat di dunia maya? Kalau niatnya cari dunia, lelahnya dapat, pahalanya zonk, ruginya dua kali lipat!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat agung. Jangan tukar pahala yang abadi di akhirat dengan pujian manusia yang sifatnya sementara. Pujian manusia itu seperti fatamorgana: dikejar bikin haus, didapatkan pun tidak mengenyangkan.

Mulai hari ini, mari kita luruskan kembali niat kita. Setiap kali kita membaca buku, menghadiri majelis ilmu, atau menyimak kajian, bisikkan ke dalam hati: "Ya Allah, aku belajar untuk menghilangkan kebodohan diriku, agar aku bisa beribadah kepada-Mu dengan benar, bukan untuk pamer di depan manusia."

Semoga Allah membersihkan hati kita dari sifat riya' dan memberikan kita ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie