Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Mari sejenak kita bernaung di bawah naungan rahmat Allah, membersihkan hati kita dari debu-debu duniawi.
Secara ilmiah dan spiritual, ilmu di dalam Islam digambarkan sebagai nuur—cahaya suci yang Allah pancarkan ke dalam lubuk hati hamba-Nya. Namun, sebagaimana cahaya bisa redup atau bahkan padam akibat polusi, cahaya ilmu pun bisa rusak dan lenyap keberkahannya akibat penyakit hati. Penyakit utama yang paling cepat merusak ilmu adalah kesombongan, gemar berselisih, dan menyalahgunakan ilmu demi kepentingan duniawi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita dalam Al-Qur'an agar tidak menjadi sombong karena ilmu:
وَلَا تَمْشِ فِي الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
"Dan janganlah kamu berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sungguh, kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.( QS – Al-Isra’ : 37 )
Ketika ilmu disalahgunakan untuk kesombongan, perdebatan yang sia-sia, atau mengejar popularitas, maka ilmu tersebut berubah menjadi bumerang yang mencelakakan pemiliknya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberikan peringatan yang sangat tegas:
لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ
"Janganlah kamu menuntut ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan pula memilih-milih majelis (untuk mencari perhatian). Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka nerakalah tempatnya, nerakalah tempatnya." ( HR : Hakim dan Ibnu Hibban )
2. Pelajarandan Pesan
Sahabat sekalian, mari kita renungkan sebuah tamsilan yang logis. Orang yang berilmu tinggi namun memiliki sifat sombong, suka berselisih, dan menyalahgunakan ilmunya, bagaikan seseorang yang menyalakan obor besar di dalam gudang kembang api.
Obor itu sejatinya adalah cahaya yang terang benderang. Namun, karena ditaruh di tempat yang salah dan dimainkan dengan angkuh, percikan apinya justru menyambar kembang api di sekelilingnya, memicu ledakan besar yang menghancurkan gudang tersebut dan membakar dirinya sendiri. Ilmu yang rusak oleh penyakit hati tidak akan menerangi jalan, melainkan menjadi bahan bakar yang menghanguskan seluruh amal kebaikan kita.
Lucunya, di zaman media sosial sekarang ini, penyakit merusak ilmu ini sering sekali kita jumpai. Ada orang yang baru belajar satu atau dua dalil dari video pendek, mendadak merasa tingkat keilmuannya sudah setara dengan mufti besar.
Begitu melihat ada perbedaan pendapat sedikit di kolom komentar, jarinya langsung "gatal" untuk ikut bertarung. Semua orang disalah-salahkan, didebat sampai subuh, seolah-olah surga itu miliknya sendiri dan kuncinya dia yang pegang. Nah, ini namanya "baru punya modal secangkir ilmu, tapi gayanya sudah seperti pemilik lautan." Bukannya membawa kedamaian, malah membuat gaduh suasana. Ilmu itu membuat kita makin merunduk, bukan makin sibuk menunjuk hidung orang lain.
Mari kita bawa hati kita untuk merenungi sebuah kisah masa lalu yang penuh ibrah dan sangat memilukan. Di lembaran sejarah, tersebutlah kisah seorang lelaki yang sangat alim bernama Bal'am bin Ba'ura. Ia adalah seorang ulama yang luar biasa di zamannya, ilmunya sangat mendalam, bahkan ia mengetahui Ismul A'zham—nama Allah yang agung, yang jika seseorang berdoa dengannya, maka doanya pasti dikabulkan.
Namun, kepintaran dan kedudukan ilmunya membuat penguasa yang zalim datang membujuknya dengan harta, takhta, dan kemewahan dunia. Tergilas oleh nafsu dan kesombongan diri, Bal'am akhirnya menyalahgunakan ilmunya. Ia menggunakan karomah doa yang dimilikinya untuk mendoakan keburukan bagi kaum nabi yang suci, demi membela penguasa yang memberinya harta.
Allah kemudian mencabut seluruh cahaya keimanan dan ilmu dari dalam hatinya. Dalam sekejap, ulama yang tadinya dihormati itu jatuh ke derajat yang paling hina. Al-Qur'an bahkan mengumpamakan dirinya seperti seekor anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan yang tiada akhir. Beliau wafat dalam keadaan merugi, kehilangan dunia dan akhiratnya, hanya karena menyalahgunakan ilmu demi secangkir kesenangan dunia yang semu. Sungguh sebuah akhir hidup yang teramat menyedihkan bagi seorang pemilik ilmu.
3. Kesimpulan & Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, pesan moral tertinggi bagi kita hari ini adalah: Kemuliaan ilmu tidak diukur dari seberapa fasih kita berdebat atau seberapa tinggi posisi kita di mata manusia, melainkan dari seberapa takut dan tunduknya hati kita kepada Allah.
Ilmu adalah ujian. Semakin banyak yang kita tahu, seharusnya membuat kita semakin takut akan kesombongan, semakin menjauhi perselisihan yang sia-sia, dan semakin berhati-hati agar tidak menjual ayat-ayat Allah demi kepentingan pribadi atau kelompok. Mari kita hiasi ilmu kita dengan akhlak yang mulia dan sifat tawadhu (rendah hati).
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjaga hati kita dari penyakit-penyakit yang merusak kesucian ilmu, dan mengaruniakan kepada kita ilmu yang berkah, yang menuntun kita menuju ridha-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie