Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita merasa minder saat belajar? Melihat orang lain sekali baca langsung paham, sementara kita harus membaca bolak-balik sepuluh kali baru mengerti. Atau saat belajar bahasa Arab dan membaca kitab, rasanya lidah ini kaku dan otak lambat merespons. Hambatan internal berupa keterbatasan kemampuan dasar sering kali membuat kita berbisik putus asa, "Ah, saya memang bodoh, ilmu ini bukan untuk saya."

Secara psikologis, setiap manusia memiliki cetakan kecerdasan dan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Namun secara spiritual, Allah SWT tidak pernah menilai hamba-Nya dari garis finish (hasil akhir), melainkan dari seberapa besar keringat dan air mata yang tumpah di garis proses. Keterbatasan dasar bukanlah tanda bahwa Allah menutup pintu ilmu, melainkan cara Allah melipatgandakan pahala kita melalui perjuangan yang lebih keras.

Mari kita sejukkan jiwa kita dengan janji Allah dalam Al-Qur'an:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabut: 69)

Bagi kita yang mengeja kitab dengan terbata-bata atau lambat memahami sesuatu, Rasulullah SAW memberikan pelukan hangat melalui sabdanya yang sangat menenangkan:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ

"Orang yang lancar membaca Al-Qur'an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata (karena belum lancar) dan mengamalkannya dengan susah payah, maka dia mendapatkan dua pahala." (HR. Muslim )

2. Pelajaran dan Pesan

Kecerdasan adalah anugerah, tetapi ketekunan adalah pilihan. Di hadapan Allah, ketekunan orang yang terbatas kemampuannya jauh lebih mulia daripada kecerdasan orang pintar yang malas dan sombong. Ilmu didapat dengan belajar (ta'allum), bukan dengan bakat turun-menurun.

Mari kita kenang kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani saat masa mudanya. Beliau mendatangi madrasah, namun otaknya terasa sangat bebal. Beliau kesulitan menghafal pelajaran dan tertinggal jauh dari teman-temannya. Merasa putus asa dan malu, beliau memutuskan pulang kampung dan keluar dari sekolah.

Di tengah jalan, hujan turun lebat, beliau berteduh di dalam gua yang sunyi. Sambil menangis meratapi nasibnya yang dinilai bodoh, pandangannya jatuh pada sebutir tetesan air yang jatuh di atas batu hitam yang besar. Setetes demi setetes air itu jatuh di titik yang sama, dan luar biasa, batu yang keras itu ternyata berlubang! Ibnu Hajar tersentak, beliau menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Hatiku tidak lebih keras dari batu ini, dan ilmu tidak lebih lembut dari air ini. Jika aku konsisten, aku pasti bisa!" Beliau kembali ke madrasah, belajar tanpa kenal lelah, hingga akhirnya sejarah mencatat beliau sebagai Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukminin dalam hal ilmu hadis).

Proses menuntut ilmu dengan kemampuan dasar yang terbatas itu ibarat kita sedang memotong pohon besar menggunakan kapak yang tumpul. Orang yang pintar itu ibarat punya kapak yang tajam; dua kali tebas, pohonnya tumbang. Lah, sedangkan kita? Kapaknya tumpul, buat baca satu halaman saja butuh waktu satu jam!

Tapi ingat, setiap kali kita mengayunkan kapak tumpul itu ke pohon—meskipun pohonnya belum tumbang—kita tetap dinilai sedang berolahraga dan berkeringat, kan? Di mata Allah, pahala dihitung per ayunan kapak! Jadi, orang yang "kapaknya tajam" cuma dapat pahala dua kali ayunan, sedangkan kita yang "kapaknya tumpul" dapat pahala seratus kali ayunan karena bolak-balik mengayun. Malah untung kita, pahalanya grosiran!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, jangan pernah mengutuk keterbatasan kemampuan dasar kita. Jika kita belum lancar membaca, belajarlah dari huruf alif. Jika kita belum paham bahasa kitab, nikmatilah proses menghafal kosakata satu demi satu. Allah tidak meminta kita menjadi manusia paling pintar di bumi, Allah hanya meminta kita menjadi hamba yang tidak pernah berhenti belajar.

Berdoalah dengan doa yang diajarkan Allah: "Rabbi zidnii 'ilmaa" (Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan). Yakinlah, batu yang keras saja bisa lubang oleh tetesan air, apalagi otak dan hati kita jika terus dialiri oleh cahaya ilmu.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie