Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, dalam dunia akademik modern, kita mengenal istilah integritas akademik, orisinalitas, dan kode etik riset. Namun jauh sebelum universitas modern merumuskan aturan tersebut, Islam telah meletakkan pondasi etika belajar (adabul muta'allim) yang sangat komprehensif. Secara psikologi kognitif dan spiritual Islam, etika dalam belajar bukan sekadar formalitas perilaku, melainkan kunci pembuka futuh—yaitu terbukanya gembok-gembok pemahaman di dalam dada seorang murid.
Etika belajar dalam Islam menuntut kebersihan niat dari tujuan-tujuan duniawi yang kerdil, serta kesiapan mental untuk menyimak ilmu dengan penuh konsentrasi. Ilmu tidak akan sudi mampir ke dalam hati yang gaduh dan tidak fokus. Allah SWT memerintahkan kita untuk memiliki etika mendengarkan yang prima ketika wahyu atau ilmu dibacakan:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." QS. Al-A'raf: 204
Meskipun ayat ini berbicara tentang Al-Qur'an, para ulama menggunakannya sebagai dalil etika umum dalam menyerap ilmu, yaitu al-istima' (mendengar dengan saksama) dan al-inshat (diam memperhatikan). Tanpa etika ini, ilmu hanya akan lewat seperti angin lalu. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahaya belajar jika etikanya dilanggar, seperti menuntut ilmu hanya untuk ajang kesombongan atau menjatuhkan orang lain:
لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ
"Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, dan jangan pula untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan memilah-milih majelis (demi mencari popularitas). Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka nerakalah tempatnya, nerakalah tempatnya.( HR. Ibnu Majah )
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan moral mendasar dari etika belajar ini adalah pentingnya memuliakan proses. Ilmu dalam Islam didapatkan dengan ketundukan jiwa, bukan dengan arogansi seorang pembeli yang merasa sudah membayar. Etika belajar mendidik kita untuk menghargai setiap tetes keringat guru, menjaga kehormatan majelis, dan tidak memotong pembicaraan saat ilmu sedang dialirkan.
Mari kita kenang kisah Imam Malik bin Anas, penyusun kitab Al-Muwatta'. Ketika beliau hendak mengajar atau membacakan hadis Rasulullah SAW, beliau akan mandi besar terlebih dahulu, memakai pakaian terbaiknya yang paling bersih, memakai wewangian, dan memakai sorban dengan rapi. Beliau duduk dengan tegak dan penuh wibawa dari awal hingga akhir majelis karena mengagungkan ilmu.
Pernah suatu hari saat mengajar, wajah Imam Malik berubah pucat dan beliau menahan napas berkali-kali, namun beliau tidak menghentikan bacaan hadisnya. Setelah majelis selesai, para murid memeriksa tempat duduk beliau dan terkejut mendapati seekor kalajengking telah menyengat kaki beliau sebanyak 16 kali! Beliau rela menahan rasa sakit yang luar biasa demi etika menjaga keagungan hadis Nabi agar tidak terputus.
Bandingkan dengan potret menyedihkan hari ini: di ruang kelas atau majelis daring, banyak di antara kita yang mendengarkan penjelasan guru sambil tiduran, asyik bermain game di bawah meja, atau sibuk mengetik komentar nyinyir di media sosial. Kita ingin mendapatkan ilmu yang berkah, tapi etika dasarnya kita injak-injak.
Etika belajar itu ibarat pagar kokoh yang melindungi sebuah taman bunga yang indah. Bunga-bunga yang merekah indah di dalam taman itu adalah wawasan, hafalan, dan pemahaman kita.
Jika taman itu tidak diberi pagar etika—seperti tidak menjaga lisan dari menyakiti guru atau gemar menyontek—maka hewan-hewan liar (berupa kesombongan, keberkahan yang hilang, dan kebencian orang lain) akan masuk merusak dan mengacak-acak taman tersebut. Akhirnya, taman ilmu kita hancur berantakan dan tidak lagi indah dipandang.
Ada cerita tentang seorang santri baru yang ingin mengamalkan etika "mencatat ilmu" agar tidak hilang. Sang guru berkata di awal kelas, "Anak-anak, ikatlah ilmu dengan cara menulisnya."
Si santri dengan semangat membara langsung mengeluarkan buku catatan baru dan pulpen mahalnya. Namun, sepanjang jam pelajaran, dia tidak fokus mendengarkan penjelasan gurunya. Dia sibuk menghias judul bab dengan spidol warna-warni, menggambar kaligrafi meliuk-liuk di pinggir kertas, dan menggarisbawahi setiap kata dengan penggaris besi agar terlihat sangat rapi.
Saat kelas selesai, temannya melihat catatannya yang sangat estetik tapi isinya kosong melompong, lalu bertanya, "Kamu tadi nyatat apa saja?"
Si santri menjawab dengan bangga, "Belum ada isinya sih, tapi lihat dong, tali pengikat ilmunya sudah estetik banget kan? Tinggal nunggu ilmunya mau lewat aja nanti!"
Hikmahnya: Etika mencatat itu bagus, tapi jangan sampai terjebak pada formalitas penampilan luar hingga melupakan substansi utamanya, yaitu menyimak dan memahami dengan hati. Jangan sampai kita sibuk menghias "tali pengikatnya", sementara "hewan buruan" ilmunya sudah lari entah ke mana.
3. Kesimpulan dan Penutup
Sauadara dan saaaudari yang berbahagia , mengetahui dan mengamalkan etika dalam belajar adalah pembeda antara seorang penuntut ilmu sejati dengan seorang pengumpul informasi komersial. Ilmu tanpa etika hanya akan melahirkan kecerdasan yang kering dan berpotensi merusak tatanan sosial. Mari kita perbaiki cara duduk kita, cara mendengar kita, dan cara kita menghormati guru-guru kita, agar ilmu yang masuk ke dalam dada tidak hanya membuat kita pintar di otak, tetapi juga bening di dalam hati.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi penuntut ilmu yang beradab, berakhlak mulia, dan beroleh keberkahan ilmu yang bermanfaat hingga hari akhir kelak
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie