Al-Mutakabbir (Artinya: Yang Memiliki Segala Keagungan / Yang Maha Megah)
|
Kategori |
Detail Deskripsi |
Langkah Nyata & Implementasi |
|
Hakikat Nama |
Al-Mutakabbir: Dzat yang berhak memiliki sifat kesombongan dan kebesaran. Hanya Allah yang pantas menyandang gelar ini karena segala keagungan adalah milik-Nya secara mutlak. |
Menyadari bahwa hanya Allah yang berhak atas "Kibriya" (keagungan) dan kita hanyalah hamba yang kecil. |
|
Sifat Al-Kibriya |
Sifat yang menunjukkan bahwa Allah bersih dari segala sifat kekurangan dan jauh di atas segala sifat makhluk-Nya. |
Selalu memuji kebesaran Allah (Bertakbir) dalam setiap keadaan sebagai bentuk pengakuan atas kelemahan diri. |
|
Efek Titipan |
Manusia terkadang diberikan "titipan" berupa kekuasaan atau harta yang memicu kesombongan (takabur), namun itu hanyalah ujian sementara. |
Mengembalikan segala pujian kepada Allah dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain atas apa yang dimiliki. |
|
Efek Mental |
Menghilangkan rasa takut kepada sesama makhluk yang merasa besar, karena kita tahu hanya Allah yang Maha Besar. |
Membangun mentalitas yang kuat dan berani (izzah) karena bersandar pada Dzat yang Maha Megah. |
|
Efek Karakter |
Melahirkan sifat tawadhu (rendah hati) yang tulus karena menyadari kesombongan adalah pakaian Allah yang tidak boleh dicuri. |
Menjauhi sikap angkuh, meremehkan orang lain, dan menolak kebenaran. |
Intisari: Al-Mutakabbir mengajarkan bahwa segala kehebatan makhluk adalah semu. Kesombongan manusia adalah kenaifan, sedangkan keagungan Allah adalah hakikat.
2. Landasan Kontekstual (Dalil)
Al-Qur’anul Karim
- Kedaulatan Mutlak
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Al-Hashr: 23)
- Otoritas Akhirat
وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Jathiyah: 37)
- Sirkulasi Kekuasaan
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri akhirat itu, Kami sediakan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Qasas: 83)
As-Sunnah & Hadis Qudsi
- Peringatan Materialisme
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim)
- Otoritas Tertinggi (Hadis Qudsi)
الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ
"Kesombongan adalah pakaian-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang menyaingi Aku dalam salah satunya, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka." (HR. Abu Dawud)
3. Penyejuk Jiwa
Saat dunia terasa menekanmu dengan kesombongan para penguasa atau orang-orang angkuh, ingatlah bahwa ada Al-Mutakabbir. Tak ada kekuatan yang abadi kecuali milik-Nya. Berlindung kepada Yang Maha Megah akan membuat jiwa tenang, karena kita tahu bahwa di balik kesewenang-wenangan makhluk, ada Allah yang mampu menundukkan segalanya dalam sekejap.
4. Teladan Salafussalih
Umar bin Khattab R.A., meskipun beliau adalah pemimpin besar yang ditakuti kekaisaran Romawi dan Persia, beliau tetap memanggul sendiri karung gandum untuk rakyatnya yang kelaparan. Beliau memahami bahwa jabatan hanyalah amanah, dan kesombongan hanya milik Al-Mutakabbir. Beliau berkata, "Barangsiapa yang tawadhu karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya."
5. Pesan Mendalam
Janganlah engkau memakai "pakaian" yang bukan milikmu. Kesombongan adalah pakaian Allah. Jika seorang hamba mencoba memakainya, ia tidak akan terlihat mulia, melainkan justru akan terlihat hina dan kecil di hadapan pencipta-Nya. Hiduplah dengan membumi, agar Allah mengangkatmu ke langit-Nya yang tinggi.
6. Kesimpulan
Mengenal Al-Mutakabbir adalah obat bagi penyakit hati berupa sombong (takabur) dan obat bagi mental yang lemah (minder). Dengan mengagungkan Allah, kita belajar merendahkan diri di hadapan-Nya agar kita tidak diperbudak oleh perasaan lebih hebat dari orang lain atau rasa takut kepada kehebatan semu duniawi.
Abu Sultan Al-Qadrie