Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Mari sejenak kita rehatkan jiwa kita dari penatnya dunia, lalu kita selami ke dalam lubuk hati kita yang paling dalam.
Secara ilmiah psikologis dan spiritual, hambatan terbesar seorang manusia untuk maju sebenarnya bukan terletak pada jarak jalan yang jauh, minimnya biaya, atau sulitnya kitab-kitab pelajaran. Musuh sejati itu ada di dalam dada kita sendiri, yaitu lemahnya niat dan rapuhnya motivasi.
Ketika niat kita dalam menuntut ilmu tidak menghujam kuat ke langit, jiwa kita akan mudah diserang penyakit malas, bosan, dan menunda-nunda. Di dalam Al-Qur'an,
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyanjung orang-orang yang memiliki keteguhan niat dan kesungguhan dalam melangkah menuju kebaikan:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
"Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami, Kami benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.( QS- Al- Ankabut : 69 )
Niat adalah motor penggerak. Jika motornya mati, perjalanan pasti terhenti. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sejak awal sudah meletakkan pondasi ini agar kita memiliki bahan bakar motivasi yang tidak pernah padam:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan.( HR – Al-Bukhari dan Muslim )
2. Pelajaran dan Pesan
Sahabat sekalian, mari kita merenungkan sebuah tamsilan yang logis. Menuntut ilmu tanpa niat dan motivasi yang kuat itu bagaikan kita mendorong mobil yang mogok di jalan tanjakan.
Selama ada orang yang membantu mendorong dari luar—mungkin karena terpaksa, karena sungkan dengan guru, atau karena ikut-ikutan teman—mobil itu akan bergerak naik sedikit demi sedikit. Tapi begitu dorongan dari luar itu hilang, atau ketika jalannya makin menanjak dan melelahkan, mobil itu pasti akan merosot jatuh ke bawah.
Niat yang kuat adalah mesin internal mobil itu sendiri. Ketika mesin dari dalam diri sudah menyala, seberat apa pun tanjakan jalannya, mobil itu akan terus melaju ke puncak tanpa perlu tergantung pada dorongan orang lain.
Kita ini kalau urusan mengoleksi niat kebaikan, kadang-kadang kreatifnya luar biasa, tapi motivasinya seumur jagung. Berapa banyak dari kita yang kalau melihat buku bagus langsung beli, lalu berniat di dalam hati: "Mulai malam ini, saya akan baca dua bab sebelum tidur!"
Tapi faktanya? Baru membaca dua halaman, bukunya belum selesai, tapi matanya sudah "khatam" duluan alias tertidur pulas. Bukunya malah beralih fungsi menjadi bantal darurat yang sangat manjur untuk mengobati insomnia.
Atau pas awal semester, niatnya menggebu-gebu ingin mencatat semua pelajaran dengan rapi, tapi begitu masuk minggu ketiga, catatannya sudah berubah menjadi abstrak mirip sandi rumput. Ini tanda bahwa motivasi kita baru sebatas emosi sesaat, belum menjadi komitmen spiritual yang kokoh!) Mari kita tundukkan kepala dan merenungi sebuah kisah nyata yang sangat menyayat hati tentang arti sebuah kesungguhan. Di masa lalu, ada seorang ulama besar yang hidup dalam kemiskinan yang teramat sangat. Di masa mudanya, beliau tidak memiliki uang untuk membeli lilin atau minyak lampu agar bisa membaca di malam hari. Namun, kerinduan hatinya kepada ilmu begitu membakar jiwanya. Saban malam, ketika seluruh penduduk kota sudah terlelap, pemuda ini berjalan tertatih-tatih menuju jalanan umum. Beliau duduk bersimpuh di bawah temaramnya lampu jalan milik kota yang cahayanya bergoyang ditiup angin malam.
Suatu malam, udara bertiup sangat dingin dan hujan gerimis mulai turun. Tubuhnya yang kurus menggigil hebat, tangan yang memegang lembaran kertas itu gemetar, dan air matanya menetes membasahi pipi bercampur dengan rintik hujan. Rasa kantuk dan lelah luar biasa menghantam raganya, berbisik agar dia menyerah saja dan pulang ke rumah untuk tidur nyaman di kasur yang hangat.
Sambil menangis menahan dingin, pemuda itu memukul dadanya sendiri dan berkata kepada jiwanya, "Wahai jiwa yang lemah... apakah engkau akan kalah oleh rasa dingin ini? Apakah engkau akan menukar warisan Rasulullah ini hanya demi beberapa jam tidur yang lelap? Demi Allah, jika raga ini harus hancur, biarlah ia hancur di atas lembaran ilmu!"
Beliau bertahan hingga fajar menyingsing. Pemuda yang menangis di bawah lampu jalanan itu kelak tumbuh menjadi salah satu ulama terbesar yang kitab-kitabnya dibaca oleh jutaan manusia hingga hari ini. Niatnya yang sekeras baja mengalahkan segala keterbatasan fisik dan lingkungan.
3. Kesimpulan & Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , pesan moral tertinggi bagi kita hari ini adalah: Musuh terbesar yang menghalangimu meraih cahaya ilmu bukanlah kebodohanmu, melainkan ketidakpedulian dan lemahnya niat di dalam hatimu sendiri. Jangan pernah menyalahkan keadaan di luar diri kita. Jika hari ini kita malas belajar, malas mengaji, atau malas menghadiri majelis ilmu, itu bukan karena kita tidak punya waktu, melainkan karena kita belum menaruh keridaan Allah sebagai tujuan utama di dalam niat kita. Mari kita perbarui niat kita setiap pagi. Katakan pada diri sendiri: "Saya belajar hari ini demi mengangkat kebodohan diri dan demi menggapai ridha-Mu, ya Allah."
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menguatkan azam di dalam dada kita, mengusir rasa malas dari jiwa kita, dan mengaruniakan kita keistiqamaan dalam menuntut ilmu.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie