Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Pernahkah kita merenung, apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya? Salah satunya adalah rasa ingin tahu (curiosity). Allah membekali kita akal bukan untuk pasif, melainkan untuk aktif berpikir, bertanya, dan menemukan kebenaran. Namun, di era digital ini, rasa ingin tahu sering kali kebablasan menjadi kepo yang tidak terarah—mengulik aib orang atau berdebat kusir tanpa ujung.

Bagaimana Islam memandang seni bertanya dan berdiskusi yang menyejukkan jiwa?

Bertanya adalah kunci gudang ilmu. Islam tidak pernah melarang umatnya berpikir kritis, asalkan tujuannya adalah untuk belajar, bukan untuk menguji atau merendahkan orang lain.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa obat dari ketidaktahuan adalah dengan bertanya secara baik, bukan dengan menerka-nerka yang memicu fitnah. Beliau bersabda:

أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ

"Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak mengetahui? Karena sesungguhnya obat dari kebodohan/ketidaktahuan itu adalah bertanya." (HR. Abu Dawud)

2. Pelajaran dan Pesan

Rasa ingin tahu itu ibarat air sungai. Jika dialirkan dengan benar melalui irigasi, ia akan menyuburkan sawah dan memberi kehidupan. Namun, jika dibiarkan tanpa arah dan tanggul yang kuat, ia akan menjadi banjir bandang yang merusak rumah dan jembatan. Bertanya dengan adab adalah irigasinya; berdebat tanpa ilmu adalah banjirnya.

Ingatkah kita kisah Nabi Musa AS ketika berguru kepada Nabi Khidir AS? Nabi Musa, seorang Rasul yang agung, dengan penuh kerendahan hati bertanya, "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar?" Ada getaran ketulusan di sana. Seorang guru besar bersedia menjadi murid yang taat demi memuaskan rasa ingin tahu yang suci. Ini mengajarkan kita bahwa di hadapan ilmu, ego kita harus tunduk.

Zaman sekarang, banyak orang berdiskusi di kolom komentar media sosial bukan untuk mencari kebenaran, tapi mencari pembenaran. Prinsipnya: "Pokoknya saya harus menang!" Ada cerita tentang seseorang yang berdebat kusir di media sosial selama 3 jam demi mempertahankan argumennya. Setelah capek mengetik sampai jarinya keriting, dia baru sadar kalau akun yang dia ajak debat adalah akun bot/palsu. Capeknya dapat, pahalanya hilang, malunya tidak ketulungan! Rasulullah SAW sudah mengingatkan, orang yang meninggalkan debat meskipun dia di pihak yang benar, dijamin sebuah rumah di pinggir surga. Jadi, buat apa habiskan kuota untuk debat yang bikin tensi naik?

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, mari kita arahkan rasa ingin tahu kita kepada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama. Bertanyalah untuk mengikis ketidaktahuan, dan berdiskusilah untuk menyatukan hati, bukan memecah belah.

Sebelum jempol kita mengetik pertanyaan atau argumen di media sosial, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini akan menambah ilmu, atau justru menambah musuh?

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie