Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Penganbtar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita merasakan rindu yang mendalam untuk memperdalam ilmu agama atau sains, tetapi saat menengok sekeliling, sarana fisiknya begitu sunyi? Perpustakaan sekolah atau masjid kita koleksinya sangat terbatas dan berdebu, tidak ada kelas tambahan untuk bimbingan, bahkan jumlah ustaz, mentor, atau pengajar di daerah kita sangat sedikit hingga satu guru harus mengajar puluhan kepala. Hambatan eksternal berupa keterbatasan sarana fisik dan kurangnya jumlah mentor ini sering kali memicu rasa putus asa, "Bagaimana saya bisa maju kalau tidak ada yang membimbing dan tidak ada buku yang dibaca?"

Secara epistemologi dan metodologi pendidikan, keberadaan literatur yang lengkap serta bimbingan intensif dari seorang mentor memang mempercepat transmisi ilmu. Namun secara spiritual-ilmiah, penentu utama terpancarnya cahaya ilmu ke dalam dada (nurul 'ilm) bukanlah tumpukan kertas di perpustakaan, melainkan keridaan Allah atas kesungguhan pencarinya. Ketika sarana manusiawi terbatas, Allah SWT sendiri yang akan menjadi pelindung dan pembuka jalan pemahaman bagi hamba-Nya yang jujur dalam berniat.

Mari kita sejukkan jiwa kita dengan firman Allah SWT yang menegaskan bahwa Dialah sumber segala pengajaran, yang memberikan pemahaman bahkan di saat manusia merasa kekurangan sarana:

وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

"Dan bertakwalah kepada Allah; Allah memberikan pengajaran kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 282)

Bagi kita yang harus bergantian mengantre demi mendapatkan bimbingan guru yang jumlahnya terbatas, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bahwa setiap detik penantian dan kesabaran kita dalam majelis yang bersahaja itu dinaungi oleh kemuliaan yang sangat besar:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهْيَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

"Tidak boleh ada hasad (iri) kecuali pada dua hal: (pertama) seorang yang Allah berikan harta lalu ia habiskan dalam kebaikan, dan (kedua) seorang yang Allah berikan hikmah (ilmu) lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya." (HR. Bukhari, No. 73)

2. Pelajaran dan Pesan

Kelangkaan guru dan buku bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan ujian untuk menyaring siapa penuntut ilmu yang bermental "singa" dan siapa yang bermental "manja". Menghormati guru yang sedikit jumlahnya dengan cara menyerap ilmunya secara maksimal jauh lebih berkah daripada memiliki ratusan mentor tetapi nasihatnya hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.

Mari kita bayangkan potret nyata di sebuah madrasah darurat pasca-bencana alam, di mana ruang kelas hancur dan perpustakaan rata dengan tanah. Hanya tersisa satu orang ustaz tua yang selamat, sementara ratusan santri cilik berkumpul di sekelilingnya di bawah pohon rindang. Kitab yang tersisa hanya satu buah yang sudah koyak dan basah ujungnya.

Karena tidak ada kelas tambahan dan waktu belajar sangat sempit, anak-anak itu rela duduk mengantre berjam-jam di bawah terik matahari hanya demi mendapatkan giliran membaca satu halaman kitab tersebut di hadapan sang ustaz. Ada seorang santri yang menangis tersedu-sedu ketika waktu belajarnya habis, ia memeluk lutut gurunya sambil berkata, "Ustaz, jangan pulang dulu, saya belum lancar membaca halaman ini, dan di rumah saya tidak punya buku lagi untuk dibaca." Sungguh pemandangan yang menyayat hati, sekaligus tamparan bagi kita yang memiliki ribuan e-book di dalam handphone namun jarang sekali membukanya

Belajar di tempat yang minim buku dan kurang mentor itu ibarat kita sedang makan di sebuah warung makan legendaris yang menunya cuma satu jenis dan pelayannya cuma satu orang kakek-kakek. Karena yang masak cuma satu orang, antrenya bisa dua jam! Tapi karena masakannya diracik dengan hati dan bumbunya pas, begitu makanan itu datang, rasanya luar biasa nikmat dan kita kunyah pelan-pelan sampai bersih tidak tersisa sebutir nasi pun!

Bandingkan dengan orang yang datang ke restoran all-you-can-eat yang super mewah (ibarat orang belajar yang bukunya jutaan dan mentornya ratusan). Karena saking banyaknya pilihan, dia ambil semua makanan ke mejanya: sup diambil, spageti diambil, siomay diambil. Akhirnya apa? Perutnya kembung, makanannya cuma dicicipi sesendok-sesendok, lalu sisanya dibuang mubazir karena bingung mau makan yang mana dulu! Begitulah tamsilannya. Sedikitnya buku dan mentor justru membuat kita menghargai setiap tetes ilmu secara mendalam, bukan menjadikannya sekadar koleksi pajangan.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, , keterbatasan sarana fisik bukanlah alasan untuk mematikan gairah belajar. Jika perpustakaanmu terbatas, jadikan memorimu dan dadamu sebagai perpustakaan terbaik dengan cara menghafal. Jika mentor di sekitarmu sedikit, muliakan mereka, khidmatlah kepada mereka, dan burulah ilmu mereka sampai ke akar-akarnya dengan adil.

Allah tidak melihat seberapa megah gedung sekolahmu atau seberapa tebal buku di jajaran rakimu, tetapi Allah melihat seberapa kokoh rasa takutmu dan kesungguhanmu dalam mengamalkan ilmu yang sedikit itu. Teruslah belajar, karena mutiara yang diasah di tengah keterbatasan akan memancarkan kilau yang paling indah.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie