Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, dalam teori motivasi modern, sebuah pergerakan atau perubahan besar dalam masyarakat hanya akan terjadi jika ada dorongan internal (intrinsic motivation) yang kuat serta tersedianya langkah solusi yang realistis. Islam sejak awal tidak hanya memerintahkan umatnya untuk bergerak, tetapi juga menjanjikan bahwa setiap langkah kaki yang diayunkan untuk menuntut ilmu dinilai sama dengan berjuang di jalan Allah (jihad fii sabilillah).

Secara psikologis, ketika seseorang memiliki visi hidup yang besar untuk agamanya, rasa malas akan terkikis dengan sendirinya. Untuk memotivasi umat agar bangkit dari kepasifan,

Allah SWT memberikan janji yang sangat indah dalam Al-Qur'an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad (berjuang bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.( QS. Al-'Ankabut: 69 )

Sebagai bentuk motivasi penjelas, Rasulullah SAW memberikan kedudukan dan pangkat spiritual yang luar biasa tinggi bagi siapa saja yang mau melangkah keluar dari zona nyamannya demi ilmu:

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

"Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali. ( HR. Tirmidzi)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan moral utama dari ceramah ini adalah berhenti mengeluh dan mulailah mengambil peran. Solusi untuk ketertinggalan umat hari ini bukan dengan saling menyalahkan di media sosial, melainkan dengan cara membangun "kembali" kultur belajar di rumah-rumah kita. Motivasi terbesar kita harusnya adalah menyelamatkan generasi masa depan dari kebutaan ilmu agama dan ketertinggalan ilmu dunia.

Mari kita tengok kisah perjuangan seorang ibu luar biasa di abad ke-3 Hijriah. Beliau adalah ibunda dari Imam Al-Bukhari. Beliau adalah seorang janda miskin yang membesarkan putranya dalam kondisi yatim dan buta sejak kecil. Di tengah keterbatasan finansial dan fisik sang anak, sang ibu tidak pernah menyerah. Beliau terus menangis memohon kesembuhan di sepertiga malam, memasak makanan seadanya, dan dengan setia menuntun tangan Bukhari kecil yang buta ke majelis-majelis ilmu.

Berkat ketangguhan motivasi sang ibu, Allah menyembuhkan mata Al-Bukhari, dan beliau tumbuh menjadi ulama hadis terbesar sepanjang sejarah dunia. Yang menyedihkan hari ini: banyak orang tua yang memiliki fasilitas lengkap, ekonomi mapan, dan anak-anak yang sehat fisik, namun mereka lebih bangga memfasilitasi anaknya dengan gawai mahal untuk bermain game seharian daripada memotivasi mereka untuk duduk di majelis ilmu atau menghafal Al-Qur'an. Kita kehilangan "ruh" perjuangan ibunda Bukhari di zaman yang serbamudah ini.

Memotivasi umat agar aktif menuntut ilmu itu ibarat menyalakan kembali mesin sebuah kapal besar yang sedang terombang-ambing di tengah badai. Selama ini, mesin kapal itu mati karena kita malas mengisinya dengan bahan bakar ilmu. Akibatnya, kapal kita didikte oleh arah angin dan ombak peradaban lain.

Solusinya bukan dengan melompat kelaur dari kapal, melainkan setiap individu dari kita harus mengambil peran sekecil apa pun—baik menjadi pengajar, pelajar, penyedia fasilitas, atau pendukung dana—untuk bersama-sama menyalakan kembali "mesin ilmu" tersebut agar kapal umat ini bisa melaju tegak menuju kejayaan.

Ada cerita tentang seorang pemuda yang mengeluh di grup WhatsApp, "Aduh, andai saja saya hidup di zaman Imam Syafi'i dulu, pasti saya sudah jadi ulama besar. Zaman sekarang susah banget belajar, godaannya banyak!" Temannya yang kritis langsung membalas, "Halah, jangan sok tahu! Kalau kamu hidup di zaman Imam Syafi'i, jangankan jadi ulama, mau belajar satu bab saja kamu harus jalan kaki menembus gurun pasir ratusan kilometer tanpa sandal. Nah, sekarang kelas gratis ada di Zoom, kitab gratis ada di PDF, tapi kamu malah sibuk rebahan sambil komen 'infokan link slot terpercaya'."

Hikmahnya: Masalahnya bukan pada zamannya, melainkan pada mentalitas dan niat kita. Solusi praktis agar aktif belajar di zaman digital ini sangat mudah: kurangi waktu tidak bermanfaat di depan layar gawai minimal 30 menit sehari, lalu alihkan waktu tersebut untuk membaca buku atau menyimak kajian ilmiah. Jangan menunggu motivasi datang dari langit, paksa diri kita untuk memulai dari hal yang paling kecil secara istiqamah.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , keaktifan menuntut ilmu adalah urat nadi kehidupan umat Islam. Solusi dari segala kemunduran kita hari ini dimulai dari langkah kaki kita sendiri menuju meja belajar. Jangan biarkan sisa umur kita habis hanya sebagai penonton sejarah; jadilah pelaku sejarah yang ikut mencerahkan dunia dengan cahaya ilmu yang kita miliki. Jadikan setiap hari sebagai ruang kelas baru untuk memperbaiki diri demi menggapai ridha-Nya.

Semoga Allah SWT membakar semangat di dalam dada kita untuk menjadi umat pembelajar yang aktif, tangguh, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh alam semesta.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie