Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, jika kita membedah sejarah secara objektif, kejayaan peradaban Islam di masa lalu—mulai dari kedokteran, astronomi, hingga matematika—bukanlah sebuah kebetulan. Itu adalah buah dari tradisi membaca (iqra') dan riset yang mendalam. Secara psikologi sosial, umat yang meninggalkan ilmu akan kehilangan rasa percaya diri dan mudah terombang-ambing oleh arus peradaban lain.

Hari ini, kita mendapati realitas yang memprihatinkan: umat Islam sangat besar secara kuantitas, namun masih tertinggal secara kualitas penguasaan sains dan teknologi. Kita cenderung menjadi konsumen ilmu, bukan produsennya. Padahal, Allah SWT telah memperingatkan kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah, termasuk lemah dalam hal kapasitas intelektual:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." QS. An-Nisa: 9

Rasulullah SAW juga telah memetakan bahwa pangkal kemunduran suatu masyarakat adalah ketika otoritas atau rujukan kehidupan diserahkan kepada orang-orang yang bodoh (tidak kompeten dalam ilmunya):

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya begitu saja dari dada manusia, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Ketika mereka ditanya, mereka memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan." HR. Bukhari & Muslim

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan moral terbesar bagi kita hari ini adalah restrukturisasi niat dalam belajar. Banyak dari kita menuntut ilmu hanya demi selembar ijazah, gengsi strata sosial, atau sekadar memenangkan perdebatan di kolom komentar media sosial. Ilmu sejati harusnya melahirkan ketakutan kepada Allah (khasyyah) dan kepedulian pada sesama. Jika ilmu kita tidak membuat kita semakin berkontribusi memperbaiki keadaan umat, maka ada yang salah dengan cara kita belajar.

Mari kita renungkan kondisi di mana perpustakaan-perpustakaan besar di dunia Islam masa lalu, seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad, pernah dihancurkan hingga air sungai Tigris menghitam karena tinta dari jutaan kitab yang dibuang. Itu adalah tragedi fisik. Namun, ada tragedi yang lebih menyedihkan hari ini: perpustakaan kita utuh, buku-buku digital bisa diakses dalam genggaman satu klik, namun gairah membaca umat telah "mati". Kita lebih betah menghabiskan waktu berjam-jam menggulir (scrolling) video pendek yang tidak bermanfaat, sementara kitab-kitab ilmu dan jurnal-jurnal riset hanya tersimpan rapi berdebu tanpa pernah disentuh. Kita kehilangan warisan terbesar kita justru di saat akses terhadapnya begitu mudah.

Kondisi umat Islam saat ini terkait ilmu ibarat seorang miliarder yang memiliki ladang minyak raksasa, namun dia mati kelaparan dan kehausan di atas tanahnya sendiri. Mengapa? Karena dia tidak memiliki ilmu dan teknologi untuk mengebor minyak tersebut. Akhirnya, dia harus membeli minyak dari orang asing dengan harga mahal, menggunakan uang pinjaman.

Umat Islam memiliki Al-Qur'an dan petunjuk yang kaya, namun karena malas menggali ilmu alam, ilmu sosial, dan teknologi, kita akhirnya mendiktekan masa depan kita pada peradaban lain yang menguasai ilmu tersebut.

Fenomena netizen kita sekarang: kurang membaca, tapi paling cepat berkomentar. Ada cerita tentang seorang pemuda di media sosial yang berdebat kusir dengan sangat galak di kolom komentar tentang teori fisika kuantum dan hukum fikih kontemporer. Argumennya luar biasa panjang, menuduh sana-sini keliru.

Ketika ada yang bertanya dengan lembut, "Akhi, referensi kitab atau jurnal yang kamu pakai apa?" Si pemuda dengan enteng menjawab, "Waduh maaf, saya tadi cuma baca judul utamanya di grup WhatsApp keluarga, teks lengkapnya sengaja tidak saya klik karena kuota saya mepet!"

Hikmahnya: Begitulah potret sebagian kita. Semangat berdebatnya setinggi langit, tapi modal ilmunya hanya sebatas judul berita utama (headline) yang provokatif. Jangan sampai kita menjadi generasi yang "nyaring bunyinya, tapi kosong isinya".

3. Kesimpulan dan Penutup

Sahabat sekalian, diagnosis utama kemunduran umat hari ini bukanlah karena kita kekurangan orang pintar atau kekurangan harta, melainkan karena kita mengalami disorientasi dalam memperlakukan ilmu. Solusinya tidak ada jalan lain: kita harus kembali ke meja belajar, menghidupkan kembali budaya literasi, menguasai sains, dan mengikatnya dengan tali iman. Hanya dengan ilmu, martabat umat ini dapat ditegakkan kembali di panggung dunia.

Semoga Allah SWT mengetuk hati kita semua untuk kembali menjadi umat pembelajar yang tangguh demi kejayaan Islam dan kesejahteraan kemanusiaan.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie