Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita merenung mengapa manusia diciptakan sebagai pemimpin (khalifah) di bumi, padahal dari segi fisik kita kalah kuat dari singa, dan kalah cepat dari elang? Jawabannya ada pada satu instrumen ilahi: Ilmu.
Secara ilmiah dan psikologis, jiwa manusia yang kosong dari ilmu akan selalu dirundung kecemasan. Ilmu adalah cahaya (nur) yang memetakan ketidakpastian menjadi keyakinan. Allah SWT meninggikan derajat orang-orang yang berilmu bukan tanpa alasan. Dalam Al-Qur'an disebutkan:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Bahkan, jalan menuju kebahagiaan abadi (surga) pun telah "didiskon" kemudahannya oleh Allah bagi mereka yang mau melangkah menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
2. Pelajara dan Pesan
Ilmu bukan sekadar deretan gelar di belakang nama atau jumlah followers di media sosial. Moralitas ilmu terletak pada amal. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang membuat pemiliknya semakin merunduk, semakin bijaksana, dan semakin bermanfaat bagi kemanusiaan. Tanpa moral, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan baru. Mari kita tengok kisah di masa lalu tentang seorang ulama besar, Imam Al-Ghazali. Suatu hari, dalam perjalanan, kafilahnya dirampok. Semua hartanya diambil, termasuk catatan-catatan ilmu yang ditulisnya bertahun-tahun. Al-Ghazali memohon kepada kepala perampok, "Ambil hartaku, tapi kembalikan catatan ilpuku. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendengarnya dan menulisnya." Sang perampok tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Bagaimana kamu mengaku berilmu, kalau catatan itu diambil lalu ilmumu hilang dari dadamu?"Kata-kata perampok itu menampar hati Al-Ghazali. Beliau menangis, bukan karena kehilangan harta, tapi karena menyadari bahwa selama ini ilmunya baru ada di atas kertas, belum meresap ke dalam jiwanya. Peristiwa menyedihkan ini mengubah hidupnya hingga ia menghafal seluruh catatan itu dan menjadi ulama besar dunia.
Bayangkan manusia tanpa ilmu itu seperti orang yang berjalan di dalam hutan belantara yang gelap gulita di tengah malam. Dia punya fisik yang kuat, tapi dia tidak tahu arah. Setiap langkahnya dihantui ketakutan akan jurang atau hewan buas.
Sebaliknya, ilmu adalah sebuah senter berkekuatan tinggi. Biarpun fisik orang itu biasa saja, dengan senter di tangannya, dia bisa melihat jalan, menghindari duri, dan sampai ke tujuan dengan selamat. Ilmu tidak mengubah medan jalannya, tapi ilmu mengubah cara kita melihat jalan tersebut.
Jenaka Berhikmah: Ada cerita tentang seorang pemuda yang sok tahu tapi malas belajar. Suatu hari dia ingin terlihat pintar di depan calon mertuanya. Saat makan malam, mertuanya bertanya, "Nak, kamu tahu kenapa air laut itu asin?"
Dengan percaya diri si pemuda menjawab, "Oh, itu jelas Om. Air laut asin karena ikan-ikan di laut semuanya keringetan gara-gara berenang seharian tanpa henti!"
Mertuanya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membatin, "Ini anak kurang ilmu, tapi kelebihan imajinasi."
Hikmahnya: Jangan sampai ketidaktahuan kita membuat kita menjadi bahan lelucon. Bertanyalah dan belajarlah, karena diam karena tidak tahu itu baik, tapi belajar agar tahu itu jauh lebih mulia.
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian, ilmu adalah kompas kehidupan. Tanpanya, kita akan tersesat dalam arus dunia yang semakin membingungkan ini. Hidup dengan ilmu akan membuat yang rumit menjadi mudah, yang gelap menjadi terang, dan yang fana bernilai abadi. Jangan pernah lelah belajar, karena belajar adalah proses seumur hidup—dari ayunan hingga ke liang lahad.
Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kita ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, dan amal yang diterima. Amin ya Rabbal 'Alamin
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie