Syair ini mengingatkan saya pada saat harus pergi dengan langkah yang berat, meninggalkan Ummi pada pagi yang basah oleh air mata. Tahun 1981 menjadi saksi perpisahan kami. Ummi melepas saya dengan doa, sementara saya berangkat membawa mimpi dan amanah ilmu ke negeri yang jauh. Saya pergi, tetapi hati saya tertinggal di pangkuanmu, Ummi. Sejak hari itu, setiap jarak bukan sekadar perjalanan, melainkan ujian rindu dan kesabaran. Saat itu, tidak ada kemudahan komunikasi seperti hari ini. Belum ada telekomunikasi canggih, pesan singkat, atau panggilan video yang dapat mengobati rindu. Sunyi menjadi teman, dan doa menjadi satu-satunya penghubung antara anak dan ibu, antara langkah yang pergi dan hati yang ditinggalkan.

 

Hari ini saya telah pulang, namun saya bukan lagi anak muda seperti dahulu. Rambut dan janggut saya telah memutih, tubuh saya menua, dan kehidupan telah mengajarkan saya tentang jatuh dan bangun yang panjang serta melelahkan. Namun di tengah segala keletihan itu, Allah masih mengaruniakan kepada saya satu nikmat yang sangat besar, yaitu Ummi masih ada, dan masih mendoakan saya. Ummi kini semakin sepuh. Kakimu lumpuh, tubuhmu rapuh dimakan usia. Namun doamu Ummi, tidak pernah menjadi lemah. Doamulah yang mengiringi saya ketika saya pergi, ketika saya sakit, dan doamulah yang terus menyertai setiap langkah hidup saya hingga hari ini. Ketika saya jatuh, saya bangkit karena doamu. Ketika saya berhasil, saya tunduk karena doamu. Saya sadar, bukan karena saya kuat, melainkan karena engkau tidak pernah berhenti memohon kepada Allah untuk saya.

Kini saya benar-benar mengerti bahwa pulang bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan kembali kepada sumber kekuatan. Duduk di sisimu, menggenggam tanganmu yang semakin lemah, saya menyadari bahwa tidak semua anak diberi kesempatan seperti ini, dan tidak semua anak sempat menua bersama ibunya. Maka sisa hidup saya adalah amanah untuk berkhidmat, untuk menemani, dan untuk mensyukuri setiap detik bersamamu. Dan kini, di fase hidupku yang kian senja, saya bersaksi dengan penuh kesadaran dan keteguhan hati engkau oh Ummi, serta putra-putriku dan cucu-cucuku adalah buah hatiku, cahaya mataku, dan kekayaanku di dunia, setelah tauhidku kepada Allah. Tiada harta yang lebih bernilai, tiada nikmat yang lebih agung, selain kasih yang Allah titipkan melalui engkau dan zuriat yang lahir dari doa-doamu.

aya memang telah menua Ummi, tetapi di hadapanmu saya tetap anakmu yang memerlukan doa, nasihat yang indah, serta bimbingan yang bijak. Selama nama saya masih disebut dalam munajatmu, selama doamu masih terangkat ke langit, saya yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah tidak akan meninggalkan saya, selama bumi dan langit masih ada. Dan nikmat memiliki engkau Ummi, adalah nikmat terbesar dalam seluruh perjalanan hidup saya di alam semesta raya.