Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Sahabat yang dicintai Allah.
Mari kita sejenak merenungkan hakikat dari setiap ilmu yang mampir ke dalam hidup kita. Di dalam Islam, ilmu bukanlah sebuah wadah yang sengaja diisi penuh hanya untuk disimpan sendiri di dalam lemari berkunci. Ilmu adalah aliran air yang suci—ia harus mengalir, membasahi tanah yang kering, dan memberi kehidupan bagi makhluk di sekitarnya.
Uraian ilmiah dari syariat kita menegaskan bahwa barometer kemuliaan seorang manusia bukan terletak pada seberapa menumpuknya wawasan di kepalanya, melainkan pada seberapa besar dampak kebaikan ilmu itu bagi orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, 'Sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri? ( QS : Fussilat : 33 )
Ilmu yang tidak mendatangkan manfaat bagi makhluk lain adalah ilmu yang semu.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merangkum tujuan hidup kita dalam sebuah sabda yang sangat indah dan melegakan jiwa:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.( HR : At-Tabrani )
2. Pelajaran dan Pesan
Sahabat, mari kita buat sebuah perumpamaan yang logis. Ilmu yang bermanfaat itu bagaikan sebuah mata air di kaki gunung.
Mata air itu tidak pernah menahan airnya. Ia biarkan dirinya terus mengalir, melewati sungai-sungai, menghidupi petak-petak sawah petani, memberi minum hewan yang kehausan, hingga menjadi sumber kehidupan bagi seluruh penduduk desa. Apakah mata air itu menjadi kering karena terus memberi? Tidak! Ia justru terus diperbarui oleh alam, airnya tetap jernih, segar, dan tidak pernah membusuk.
Sebaliknya, ilmu yang disembunyikan dan tidak dibagi bagaikan genangan air mati di dalam kolam yang tertutup. Lama-kelamaan airnya akan keruh, berbau, dan menjadi sarang penyakit.
Tapi kadang-kadang, kita ini sering salah paham dalam membagikan manfaat. Ada tipe orang yang kalau dapat ilmu sedikit, langsung ingin mengubah dunia dalam semalam. Begitu tahu satu hadis tentang kebersihan, langsung memarahi semua orang di rumah yang lupa menaruh handuk.
Atau ada juga yang hobinya share ilmu di grup-grup WhatsApp keluarga atau media sosial dengan niat "menasihati", tapi bahasanya menyerang dan membuat orang lain tersinggung. Nah, ini namanya berniat membagikan "mata air", tapi cara menyiramnya pakai selang pemadam kebakaran! Basah kuyup dan babak belur semua orang. Membawa manfaat itu harus dengan kelembutan dan keteladanan, bukan dengan penghakiman.
Mari kita merenung sejenak, membawa hati kita pada sebuah kisah nyata yang mengiris kalbu. Di sebuah sudut negeri, ada seorang guru tua yang hidup dalam kesahajaan. Tubuhnya sudah ringkih digerogoti usia, dan matanya mulai lamur. Di hari-hari terakhir hidupnya, dalam keadaan sakit di atas tempat tidur yang sederhana, beliau masih meminta anak-anak tetangga untuk datang ke rumahnya.
Dengan suara yang terputus-putus dan nafas yang berat, beliau menuntun anak-anak kecil itu mengeja huruf demi huruf Al-Qur'an. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya, beliau tersenyum setiap kali anak-anak itu berhasil membaca dengan benar.
Ketika pihak keluarga menangis dan memohon, "Wahai Ayah, beristirahatlah, engkau sedang sakit parah," guru tua itu menjawab dengan air mata yang menetes di pipinya yang keriput, "Anakku, ayah tahu waktu ayah sudah dekat. Ayah tidak punya harta atau emas untuk diwariskan ke dunia ini. Ayah hanya punya sedikit ilmu ini. Demi Allah, ayah sangat takut jika esok hari ayah menghadap-Nya, Allah bertanya apa yang sudah ayah perbuat dengan ilmu ini, dan ayah belum sempat memberikannya kepada anak-anak ini..."
Tidak lama setelah kalimat itu selesai, beliau mengembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman. Beliau pergi tanpa warisan kemewahan, tetapi wafatnya meninggalkan cahaya ilmu di hati anak-anak yang ditinggalkannya. Sungguh sebuah kematian yang membuat iri, wafat dalam keadaan mengalirkan manfaat.
3. Kesimpulan & Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, pelajaran moral tertinggi bagi kita hari ini sangat jelas: Ilmu kita tidak akan pernah naik kelas di sisi Allah sebelum ia melahirkan pengorbanan dan manfaat nyata bagi makhluk-Nya.
Jangan pernah menunggu menjadi ulama besar atau profesor untuk mulai berbagi. Jika hari ini Anda memiliki ilmu tentang bagaimana cara bercocok tanam yang baik, bagikan kepada petani yang kesulitan. Jika Anda memiliki ilmu tentang manajemen yang rapi, bantu tata lembaga atau komunitas di sekitar Anda yang masih berantakan. Bahkan jika Anda hanya tahu satu huruf kebaikan, ajarkanlah.
Mari kita berdoa agar ilmu yang kita miliki tidak berhenti di tenggorokan kita sendiri, melainkan menjelma menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bahkan ketika jasad kita sudah bersatu dengan tanah.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie