Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, dalam arsitektur jiwa manusia, ada ruang spiritual yang tidak akan pernah bisa diisi oleh kepintaran matematika, kedokteran, atau kecerdasan buatan (AI). Ruang itu hanya bisa dipenuhi oleh ilmu yang bersumber langsung dari syariat Allah SWT. Secara psikologis dan ilmiah Islam, ilmu syariat—seperti tauhid yang meluruskan keyakinan, akidah yang memperkokoh prinsip, dan fikih yang menata hukum perbuatan—adalah sistem operasi (operating system) bagi hati manusia. Tanpanya, potensi akal manusia akan kehilangan arah.
Ilmu syariat berfungsi mensuci-murnikan jiwa (tazkiyatun nafs) sehingga melahirkan ketenangan sejati yang tidak bergantung pada megahnya dunia luar. Ketika akidah seseorang lurus dan pemahaman fikihnya matang, dia tidak akan mudah goyah oleh badai ujian kehidupan. Allah SWT menegaskan bahwa ilmu syariat (wahyu) ini diturunkan untuk menghidupkan kembali hati manusia yang mati:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
"Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?" ( ( QS. Al-An'am: 122)
Rasulullah SAW juga memberikan jaminan ilmiah bahwa tanda utama bahwa Allah menginginkan kebaikan, keselamatan, dan kemuliaan bagi seorang hamba adalah dengan dipahamkannya ia terhadap urusan ilmu syariat ini:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan agamanya. ( HR. Bukhari & Muslim )
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan moral terbesar dari topik ini adalah pentingnya menjaga kemurnian hidup. Ilmu tauhid menjaga agar pikiran dan hati kita tidak menghamba kepada makhluk atau materi. Ilmu fikih menjaga agar gerak-gerik harian kita selalu berada dalam batas koridor yang diridhai-Nya. Belajar ilmu syariat mendidik kita untuk memiliki standar moral yang absolut, bukan moralitas relatif yang berubah-ubah mengikuti tren zaman.
Mari kita kenang sebuah fragmen sejarah yang mengharukan dari seorang ulama besar, Imam Ahmad bin Hanbal. Di masa ujian fitnah ideologi, beliau dipaksa penguasa untuk mengikuti paham yang keliru. Beliau dipenjara, dirantai, dan cambuk berkali-kali merobek kulit punggungnya yang sudah tua. Namun, berbekal ilmu tauhid dan akidah yang kokoh di dalam dadanya, beliau tidak mundur selangkah pun demi menjaga kemurnian syariat. Keteguhannya menyelamatkan akidah umat generasi setelahnya. Yang menyedihkan hari ini, di zaman ketika akses belajar agama begitu mudah lewat gawai, banyak di antara kita yang justru meremehkan ilmu syariat. Kita melihat fenomena menyedihkan di mana seseorang sangat panik jika anaknya tidak kursus bahasa asing atau les matematika, namun tenang-tenang saja ketika mendapati sang anak sudah beranjak dewasa tapi belum tahu cara bersuci (thaharah) yang sah, atau tidak paham prinsip dasar akidah Islam. Kita sering menomorduakan ilmu penyelamat akhirat ini.
Ilmu syariat (akidah, tauhid, dan fikih) itu ibarat jangkar raksasa dan kompas navigasi pada sebuah kapal besar yang sedang mengarungi samudra.
Tauhid dan akidah adalah jangkar yang menghujam dalam. Ketika badai gelombang keraguan dan ujian dunia datang menerpa, kapal itu tidak akan hanyut terombang-ambing atau menabrak karang karena jangkarnya mengikat kuat.
Ilmu fikih adalah kompas navigasinya. Ia yang memberi tahu kapten kapal kapan harus berbelok (halal), kapan harus berhenti (haram), dan jalur mana yang aman untuk dilewati (syariat). Tanpa keduanya, kapal secanggih apa pun pasti akan karam ditelan lautan.
Ada cerita tentang seorang pria yang malas belajar ilmu fikih ibadah dasar tapi terlanjur ditunjuk menjadi muazin dadakan di sebuah musala kampung karena muazin aslinya sedang sakit perut. Dengan percaya diri, dia mengumandangkan azan. Namun, karena tidak pernah mengaji bab azan, di tengah-tengah kalimat dia lupa urutannya. Setelah melafalkan "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah", dia terdiam lama karena otaknya mendadak blank. Karena mic musala masih menyala, seluruh warga mendengar dia berbisik dengan gugup, "Aduh... habis ini apa ya? Hayya 'alas shalah dulu atau langsung ikamah aja ya biar cepet?"
Warga yang mendengar lewat speaker luar langsung berteriak dari rumah masing-masing, "Habis itu turun aja Mas, ganti muazinnya, keburu subuhnya habis!"
Hikmahnya: Jangan menyepelekan ilmu syariat, bahkan untuk perkara ibadah yang kita lihat sehari-hari. Beribadah tanpa modal ilmu fikih yang benar tidak hanya berpotensi merusak keabsahan ibadah kita, tapi juga bisa membuat kita menanggung malu di hadapan orang banyak. Belajar agama itu tidak ada ruginya.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia, ilmu syariat adalah warisan para nabi yang paling berharga untuk menuntun jalannya peradaban manusia. Ia bukan ilmu kuno yang usang dimakan zaman, melainkan petunjuk abadi yang selalu relevan untuk menjawab dahaga spiritual manusia modern. Mari luangkan waktu kita secara konsisten untuk mengaji tauhid, membenahi akidah, dan memperdalam fikih, agar setiap helai napas dan aktivitas kita di dunia ini bernilai ibadah serta bermuara pada keselamatan di akhirat kelak.
Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran syariat-Nya, mengaruniakan keistiqamahan dalam belajar, dan mengumpulkan kita semua dalam rida dan surga-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie