Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, dalam istilah modern kita sering mendengar istilah "ilmu sekuler" untuk menggambarkan ilmu alam, matematika, ekonomi, sosiologi, hingga ilmu komputer. Namun, di dalam Islam, selama ilmu tersebut mendatangkan maslahat, membantu kehidupan manusia, dan tidak menabrak syariat, ia disebut sebagai Ilmu Umum yang Bermanfaat. Secara psikologi kognitif dan sains, ilmu-ilmu ini adalah sarana bagi manusia untuk membaca ayat-ayat Allah yang tercipta di alam semesta (ayat kauniyah).

Islam tidak pernah membuang ilmu umum. Justru, ilmu pengetahuan umum adalah instrumen bagi umat Islam untuk menjalankan tugas sebagai pengelola bumi (khalifah fil ardhi). Melalui ilmu astronomi kita menghitung waktu shalat, melalui ilmu medis kita menyelamatkan nyawa, dan melalui ilmu pertanian kita memberi makan jutaan perut yang lapar.

Allah SWT berfirman menantang akal manusia untuk meneliti kebesaran-Nya di balik ilmu fenomena alam:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاختِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. ( QS. Ali 'Imran: 190)

Setiap kontribusi ilmiah sekecil apa pun yang meringankan beban hidup manusia di dunia memiliki nilai yang sangat tinggi di mata Rasulullah SAW, sebagaimana beliau bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.( HR. Al-Thabarani )

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan moral terbesar dari topik ini adalah meluaskan niat dalam menuntut ilmu. Belajarlah ilmu komputer, akuntansi, teknik, atau pertanian bukan semata-mata demi mengejar slip gaji bulanan yang tinggi. Jadikan ilmu tersebut sebagai kontribusi nyata untuk menegakkan izzah (kehormatan) umat Islam. Ketika niat itu bergeser dari sekadar mencari materi menjadi mencari rida Allah, maka setiap lembar buku umum yang Anda baca dicatat sebagai pahala jihad.

Mari kita kenang kisah penemuan sistem angka nol oleh matematikawan muslim terbesar sepanjang sejarah, Al-Khawarizmi. Sebelum angka nol ditemukan, sistem hitung dunia sangat rumit dan terbatas. Berkat kecerdasan beliau memformulasikan angka nol, peradaban dunia hari ini bisa menikmati teknologi komputer, penerbangan, hingga kecerdasan buatan (AI). Jutaan manusia terbantu hidupnya berkat satu ilmu matematika tersebut. Namun, hal yang menyedihkan hari ini adalah banyak ilmuwan muslim yang jenius dalam sains, kedokteran, dan teknologi di Barat, namun ilmu mereka justru dimanfaatkan untuk memajukan peradaban lain. Sementara di negeri-negeri muslim, kita masih kekurangan inovasi, kekurangan riset mandiri, dan sering kali abai memfasilitasi anak-anak muda kita yang cerdas di bidang ilmu umum. Ketergantungan kita pada teknologi luar adalah realitas yang menyedihkan yang harus segera kita ubah.

Ilmu pengetahuan umum yang bermanfaat itu ibarat sebilah pisau bedah yang sangat tajam di tangan seorang dokter bedah yang profesional.

Jika pisau itu dipegang oleh orang yang beriman dan berilmu, ia akan digunakan untuk membedah tumor, menyelamatkan pasien, dan mendatangkan kesembuhan.

Namun, jika pisau itu dipegang oleh penjahat yang tidak beriman (sekuler murni tanpa moral), pisau yang sama akan digunakan untuk menodong, melukai, dan merusak tatanan sosial. Sains dan teknologi itu netral; ia akan menjadi berkah atau laknat tergantung siapa jemaah yang memegangnya.

Ada cerita tentang seorang mahasiswa jurusan teknik pertanian modern yang baru pulang KKN ke desa kelahirannya. Dia melihat seorang petani tua sedang mengamati pohon kelapa yang buahnya sering rontok sebelum matang. Dengan gaya bicara ilmiah yang penuh istilah asing, si mahasiswa berkata, "Oh Pak, berdasarkan analisis agronomi dan defisiensi nutrisi makro, pohon kelapa Bapak ini mengalami disfungsi absorbsi unsur kalium pada struktur tanahnya!" . Petani tua itu melongo bingung, "Maksudnya gimana,nak ?" Si mahasiswa menjawab, "Maksudnya, kelapa Bapak kurang pupuk!"

Sang petani menepuk pundak mahasiswa itu sambil tertawa, "Oalah nak... ilmu kuliahmu setinggi langit, tapi ngomong 'kurang pupuk' aja harus muter-muter lewat luar angkasa. Ilmu umum itu baru bermanfaat kalau bisa bikin orang bawah paham, bukan bikin orang bawah makin pusing!"

Hikmahnya: Belajarlah ilmu umum setinggi mungkin, kuasai teknologi paling mutakhir, namun tetaplah membumi saat menyampaikan kemanfaatannya di tengah masyarakat. Ilmu yang hebat adalah ilmu yang bisa menyelesaikan masalah nyata, bukan ilmu yang sekadar keren di atas kertas atau kata-kata.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , Islam tidak pernah memusuhi ilmu pengetahuan umum, sains, maupun teknologi. Al-Qur'an justru mendorong kita untuk mengeksplorasi bumi dan langit. Mari hilangkan pandangan bahwa belajar ilmu dunia itu kurang bernilai ibadah. Selama ilmu umum yang Anda pelajari mendatangkan maslahat bagi manusia, meringankan penderitaan sesama, dan menjaga kedaulatan umat, maka Anda sedang beribadah dalam arti yang luas.

Semoga Allah SWT memberkahi setiap profesi dan cabang ilmu umum yang sedang kita tekuni saat ini, menjadikannya ladang amal jariyah, serta menuntun kita menjadi umat yang mandiri dan unggul di panggung peradaban dunia.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie