. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Para sahabat yang dicintai Allah, pernahkah kita membayangkan seseorang yang bekerja keras seharian, bermandikan keringat, namun saat pulang ke rumah ia tidak membawa upah sepeser pun karena salah prosedur? Tentu sangat meletihkan dan menyayat hati. Begitulah analogi orang yang getol beribadah, namun mengabaikan Ilmu.
Ibadah dalam Islam bukan sekadar gerakan fisik atau ritual tanpa makna. Ibadah adalah persembahan hamba kepada Sang Pencipta yang memiliki aturan main baku. Agar amal ibadah kita berbuah pahala dan diterima di sisi Allah, ia harus tegak di atas landasan ilmu yang benar. Tanpa ilmu, amal seseorang berisiko tertolak.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan dalam Al-Qur'an tentang orang-orang yang rugi amalnya:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
"Katakanlah (Muhammad), 'Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?' (Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Mengapa mereka rugi? Karena mereka beramal hanya bermodalkan semangat tanpa tuntunan ilmu yang sahih.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah memberikan rambu-rambu yang sangat tegas:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim)
Ilmu adalah penentu kualitas. Sedikit amal yang didasari ilmu jauh lebih mulia dan bernilai di mata Allah daripada banyak amal yang dikerjakan dalam kebodohan.
2. Pelajaran dan Pesan
Pesan moral yang mendalam dari topik ini adalah: Luruskan niat, kuasai syariat. Semangat beragama harus berbanding lurus dengan semangat belajar. Kita tidak bisa menyembah Allah dengan cara yang kita karang sendiri. Menuntut ilmu fikih ibadah (seperti tata cara wudu, salat, dan puasa) hukumnya adalah fardhu 'ain—wajib bagi setiap individu—agar hubungan kita dengan Allah tidak cacat secara hukum syar'i.
Mari kita kembali ke zaman para sahabat, merenungkan sebuah peristiwa yang membuat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersedih sekaligus menegur dengan keras. Dalam sebuah safar (perjalanan), ada seorang sahabat yang kepalanya terluka parah karena terkena lemparan batu. Di malam harinya, ia mengalami mimpi basah.
Pagi harinya, ia bertanya kepada sahabat-sahabat di sekitarnya, "Apakah ada keringanan bagiku untuk bertayamum?" Para sahabat yang saat itu belum tahu ilmunya menjawab, "Kami tidak mendapati keringanan bagimu karena kamu masih mampu menggunakan air." Akhirnya, dengan luka yang menganga di kepalanya, sahabat itu terpaksa mandi wajib dengan air. Akibatnya fatal, lukanya infeksi dan ia pun meninggal dunia.
Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda dengan nada sangat berduka dan marah: "Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak tahu? Sesungguhnya obat dari kebodohan itu hanyalah bertanya (belajar)!"
Kisah memilukan ini menjadi pelajaran abadi bagi kita: kebodohan dalam ibadah bukan hanya bisa merusak amal, tetapi juga bisa membawa petaka bagi kehidupan.
Mari kita umpamakan ibadah tanpa ilmu itu seperti merakit sebuah smartphone canggih tanpa membaca buku petunjuk manual (user manual).
Anda punya semua komponen yang mahal, Anda punya semangat membara untuk merakitnya, lalu Anda menyambungkan kabel dan komponennya asal-asalan menggunakan logika sendiri. Apa yang terjadi? Alih-alih menyala, handphone tersebut justru korsleting, mengeluarkan asap, dan meledak hancur. Semangat saja tidak cukup; tanpa "buku petunjuk" bernama ilmu, rakitan amal kita bisa hangus tak bersisa.
Lucunya, di era digital sekarang, banyak orang yang beribadah hanya ikut-ikutan tren video viral tanpa tabayun ilmunya.
Pernah ada kejadian seseorang yang mau salat tahajud di sepertiga malam. Karena ingin khusyuk dan dapat atmosfer "aesthetic" seperti di reels Instagram, dia mematikan semua lampu kamar dan menyalakan lilin aroma terapi melati banyak-banyak. Pas rakaat pertama, dia merem lama sekali. Begitu buka mata... lho, kok ruangan penuh asap? Ternyata sajadahnya kebakaran kesenggol lilin! Walhasil, bukannya dapat pahala tahajud, malah sibuk teriak panggil pemadam kebakaran.
Nah, inilah akibatnya kalau mau ibadah cuma modal "katanya" dan demi konten, tapi tidak tahu rukun, syarat, dan fadhilah yang diajarkan Nabi. Ibadah itu butuh ketenangan ilmu, bukan kosmetik visual!
3. Kesimpulan dan Penutup
Keabsahan ibadah kita adalah pertaruhan terbesar di akhirat kelak. Ibadah yang benar wajib memenuhi dua syarat utama: ikhlas karena Allah (bersih hatinya) dan ittiba' alias sesuai tuntunan Rasulullah (benar ilmunya). Ilmu adalah jembatan yang memastikan bahwa setiap ruku', sujud, dan lelahnya kita di dunia ini benar-benar dikonversi menjadi pahala yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di hari kiamat.
Saudara dan saudari yang berbahagia, sebelum kita menambah kuantitas ibadah sunah kita, mari luangkan waktu untuk memperbaiki kualitas ibadah wajib kita melalui ilmu. Bukalah kembali kitab-kitab fikih dasar, bertanyalah kepada para guru dan ulama yang terpercaya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima setiap jengkal amal ibadah kita, memaafkan segala kekurangan kita, dan mengaruniakan kita pemahaman ilmu yang lurus hingga akhir hayat.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie