Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat netizen yang dirahmati Allah, sering kali kita melihat ada orang yang ibadahnya rajin, namun lisannya masih suka menyakiti tetangga. Ada yang salatnya di saf terdepan, tetapi urusan bisnisnya masih mencampuradukkan yang syubhat dan haram. Mengapa ini bisa terjadi? Karena hilangnya keseimbangan antara pemahaman Syariat, Hukum Agama, dan Adab.

Ilmu agama bukan sekadar hafalan tentang apa yang batal dan apa yang sah secara hukum (syariat), melainkan sebuah kesatuan utuh yang meresap ke dalam perilaku sehari-hari melalui keindahan adab. Orang yang memahami hukum agama akan beribadah dengan penuh ketundukan, dan orang yang memiliki adab akan menghiasi ibadah tersebut dengan akhlak yang mulia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam justru karena fondasi agungnya adab dan akhlak beliau:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS. Al-Qalam: 4)

Syariat dan hukum agama mengajari kita bagaimana cara menyembah Allah, sedangkan adab mengajari kita bagaimana bersikap di hadapan Allah dan makhluk-Nya. Jika kita beribadah tanpa mengerti hukumnya, ibadah kita rusak. Jika kita beribadah tanpa adab, pahala kita bisa sirna.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang pentingnya mendudukkan sesuatu sesuai hukum dan adab:

إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Sesungguhnya di antara orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan moral yang tinggi dari topik ini adalah: Adab berada di atas ilmu, dan ilmu mendahului amal. Belajar hukum agama (fikih) membuat kita tahu batasan halal-haram yang sah, namun belajar adab membuat ilmu tersebut menjadi indah dan menyejukkan. Jangan sampai kita menjadi orang yang pintar bicara hukum halal-haram di media sosial, tetapi adab kita dalam menegur orang lain justru kasar dan penuh caci maki.

Mari kita petik hikmah dari kisah teladan yang sangat menyentuh hati di dalam Masjid Nabawi. Suatu hari, datanglah seorang Arab Badui (orang pedalaman) yang belum mengerti hukum agama dan adab di dalam masjid. Tanpa rasa bersalah, ia tiba-tiba kencing di salah satu sudut masjid.

Melihat hal itu, para sahabat berteriak marah dan hampir memukuli orang tersebut. Namun, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kelembutan dan keluasan ilmunya langsung mencegah mereka: "Jangan hentikan dia, biarkan dia menyelesaikan kencingnya."

Setelah orang Badui itu selesai, Rasulullah menyuruh sahabat menyiram bekas kencingnya dengan seember air. Kemudian, beliau mendekati orang Badui itu dengan senyuman, lalu menasihatinya dengan sangat lembut: "Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk tempat kencing dan berak, masjid ini dibangun untuk zikir kepada Allah, salat, dan membaca Al-Qur'an."

Orang Badui itu begitu terharu dengan adab Rasulullah hingga ia berdoa: "Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad saja, dan jangan Engkau rahmati orang lain selain kami." Perpaduan ilmu syariat dan adab yang agung dari Nabi berhasil mengetuk hidayah tanpa perlu kekerasan.

Ilmu syariat/hukum agama itu ibarat fondasi dan dinding sebuah rumah, sedangkan adab adalah cat, interior, dan wewangian di dalamnya.

Jika Anda membangun rumah hanya dengan fondasi dan semen kasar tanpa dicat dan tanpa pintu yang layak (punya syariat tapi tidak punya adab), rumah itu memang sah berdiri, tetapi tidak ada orang yang betah tinggal di dalamnya karena gersang dan tidak nyaman. Sebaliknya, jika Anda hanya sibuk mengecat tanpa ada dinding yang kokoh (punya adab tapi tidak tahu hukum agama), rumah itu akan roboh saat ditiup angin kencang. Keduanya harus menyatu!

Fenomena hari ini, banyak netizen yang mendadak jadi "Mufti" atau ahli hukum agama di kolom komentar, tapi melupakan adab Islam.

Ada tipe netizen yang kalau melihat saudaranya salah sedikit dalam video ibadah, komentarnya langsung nge-gas: "Waduh Akhi, Antum salatnya begitu? Fix bid'ah, salat Antum tidak sah, auto masuk neraka jalur prestasi!"

Nah, ini contoh orang yang mungkin tahu sebuah hukum, tapi minus adab dalam menyampaikan. Bukannya membuat orang sadar dan bertaubat, cara menegur yang kasar begitu justru membuat orang lari dari agama. Ingat, dakwah itu merangkul, bukan memukul; mengajak, bukan mengejek!

3. Kesimpulan dan Penutup

Kebenaran ibadah dan amal sejati terbentuk dari tiga pilar: kita tahu syariatnya (aturannya), kita taat pada hukum-hukumnya (sah dan batalnya), dan kita hiasi dengan adab serta akhlak yang mulia. Tanpa pemahaman hukum, amal kita tersesat. Tanpa adab, amal kita kehilangan ruhnya. Jadilah muslim yang kokoh secara syariat dan memesona secara adab.

Saudara dan saudari tang berbahagia , mari kita terus belajar. Jangan hanya belajar fikih ibadah, tapi bacalah juga kitab-kitab adab para ulama terdahulu. Mari kita hiasi linimasa media sosial kita dengan tutur kata yang santun, kritik yang membangun, dan ilmu yang menyejukkan jiwa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengaruniakan kepada kita pemahaman agama yang mendalam, membimbing syariat kita agar lurus, dan menghiasi hati serta perilaku kita dengan adab yang mulia hingga kita menghadap-Nya kelak.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie