Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, dalam sistem hukum Islam (tasyri'), kewajiban belajar dipetakan dengan sangat ilmiah dan berkeadilan melalui dua kategori besar: Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah. Secara psikologi sosial dan manajemen spiritual, pemetaan ini berfungsi agar roda peradaban manusia berjalan seimbang. Fardhu 'Ain menata kesalehan individu agar selamat secara pribadi, sedangkan Fardhu Kifayah menata kekuatan kolektif agar umat berdaulat dan mandiri secara sosial, ekonomi, medis, dan teknologi.

Ilmu Fardhu 'Ain adalah kewajiban mutlak bagi setiap personal (seperti ilmu ketauhidan, tata cara shalat yang benar, dan batasan halal-haram). Sementara Ilmu Fardhu Kifayah adalah kewajiban publik yang jika sudah ada sebagian kelompok yang menguasainya (seperti dokter, ahli IT, astronom, atau ahli nuklir), maka gugurlah dosa seluruh umat. Namun, jika dalam satu wilayah tidak ada satu pun yang menguasainya, maka seluruh penduduk wilayah tersebut menanggung dosa bersama.

Allah SWT berfirman mengenai pentingnya pembagian tugas dan spesialisasi ilmu ini:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّكُمْ يَحْذَرُونَ

"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka itu dapat menjaga dirinya.( QS. At-Tawbah: 122 )

Rasulullah SAW juga menekankan dalam sebuah hadis bahwa Allah sangat menyukai hamba-Nya yang totalitas dan profesional ketika mengambil peran dalam cabang ilmu atau keahlian tertentu demi kemaslahatan umat:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

"Sesungguhnya Allah sangat mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan (atau keahlian), lalu ia melakukannya secara itqan (profesional, tekun, dan tuntas).( HR. Al-Baihaqi)

2. Pelajaran dan Pesan

Pesan moral utama dari konsep ini adalah skala prioritas (fiqh ul-awlawiyyat). Kita tidak boleh menukar kewajiban individu demi mengejar kewajiban publik, dan sebaliknya. Sangat tidak elok jika seseorang begitu mahir mengoperasikan algoritma komputer atau menguasai pasar saham global (Fardhu Kifayah), namun ketika menghadap Allah, dia bahkan tidak tahu rukun dan pembatal shalatnya sendiri (Fardhu 'Ain). Keduanya harus diletakkan pada porsinya masing-masing dengan adil.

Mari kita kenang masa keemasan Islam, di mana pembagian fardhu 'ain dan fardhu kifayah menyatu di dalam diri para ulama. Kita mengenal Ibnu Sina, seorang hafidz Al-Qur'an dan ahli fikih yang matang di usia belia (Fardhu 'Ain), namun di saat bersamaan beliau adalah "Bapak Kedokteran Dunia" yang menulis kitab The Canon of Medicine (Fardhu Kifayah). Umat Islam saat itu disegani karena perpaduan karakter ini. Namun, hal yang sangat menyedihkan hari ini adalah kita menyaksikan fenomena ketertinggalan umat yang masif. Kita kekurangan dokter spesialis muslim di daerah-daerah terpencil, kita tertinggal dalam riset teknologi modern, dan kita sangat bergantung pada produk bangsa lain. Ketika ditanya mengapa, sebagian kita menjawab, "Ah, sains dan teknologi itu urusan duniawi, yang penting kami fokus ngaji saja." Ini adalah salah kaprah yang menyedihkan, karena mengabaikan Fardhu Kifayah hingga membuat umat menjadi lemah dan terhina juga merupakan lubang dosa kolektif.

Ilmu Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah itu ibarat fondasi rumah dan dinding-atapnya.

Ilmu Fardhu 'Ain adalah fondasi kokoh di dalam tanah. Rumah tidak akan bisa tegak dan sah berdiri jika tidak ada fondasinya. Semua orang wajib memilikinya.

Ilmu Fardhu Kifayah adalah dinding, tiang, jendela, dan atapnya. Jika fondasinya sudah kuat, tapi tidak ada yang mau membangun dinding dan atapnya, maka rumah itu tidak akan bisa dihuni, penghuninya akan kehujanan, kepanasan, dan mudah diserang oleh musuh dari luar. Kita butuh fondasi untuk selamat, dan kita butuh atap serta dinding untuk berdaulat.

Ada cerita tentang seorang pemuda yang kuliah di jurusan teknik sipil mutakhir. Dia merasa sudah menunaikan Fardhu Kifayah tingkat tinggi karena bisa merancang jembatan layang yang megah. Suatu hari di kampungnya, sang imam masjid berhalangan hadir dan pemuda ini diminta menjadi imam shalat maghrib karena penampilannya yang necis.

Saat rakaat kedua, dia lupa membaca surat setelah Al-Fatihah dan langsung melompat ke gerakan rukuk. Jamaah di belakang menegur dengan membaca, "Subhanallah!"

Karena tidak menguasai ilmu Fardhu 'Ain tentang bab Sujud Sahwi, si pemuda malah panik. Selesai shalat dia berbalik ke jamaah dan berkata dengan percaya diri, "Maaf bapak-bapak, tadi itu namanya 'Jembatan Layang Rakaat', teknik terbaru yang saya pelajari di kampus untuk memangkas durasi shalat yang macet!"

Hikmahnya: Jangan sampai keahlian kita yang setinggi langit dalam urusan Fardhu Kifayah hancur berantakan dan menjadi bahan tertawaan hanya karena kita malas mempelajari dasar-dasar ibadah yang sifatnya Fardhu 'Ain. Pintar di dunia itu wajib, tapi paham cara menyembah Allah itu jauh lebih mendasar.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahgia, memahami pembagian Ilmu Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah akan menyelamatkan kita dari disorientasi hidup. Sempurnakan dulu hubungan pribadi kita dengan Allah melalui Ilmu Fardhu 'Ain yang lurus, lalu lebarkan kebermanfaatan diri kita bagi peradaban umat melalui penguasaan Ilmu Fardhu Kifayah yang profesional. Ketika kedua jalur kewajiban ilmu ini kita tunaikan dengan ikhlas, maka kejayaan Islam bukan lagi sekadar nostalgia sejarah, melainkan realitas yang akan kita genggam kembali.

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang proporsional dalam menuntut ilmu, cerdas dalam memetakan prioritas, dan bermanfaat bagi kemaslahatan dunia hingga akhirat.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie