Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita merasa ingin sekali ikut kajian atau membaca buku bermanfaat, tapi tiba-tiba terlintas pikiran: "Aduh, kerjaan belum kelar," atau "Bentar deh, lagi seru scrolling nih"?

Hambatan terbesar dalam menuntut ilmu seringkali bukan jarak atau biaya, melainkan hambatan internal dari dalam diri kita sendiri: terlalu sibuk dengan urusan duniawi.

Secara psikologis dan spiritual, ketika hati seseorang terlalu penuh dengan ambisi duniawi, ruang untuk menerima cahaya ilmu akan menyempit. Ilmu itu sifatnya lembut (lathif); ia tidak akan sudi bersemayam di hati yang gaduh oleh urusan dunia yang fana.

Allah SWT telah mengingatkan kita dengan begitu indah dalam Al-Qur'an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. Al-Munafiqun: 9)

Mengingat Allah di sini, menurut para ulama, termasuk di dalamnya adalah majelis ilmu. Ketika kita mengorbankan waktu menuntut ilmu demi mengejar materi secara berlebihan, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras melalui sabdanya:

مَنِ ابْتَغَى الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

"Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan wajah manusia kepadanya (mencari popularitas duniawi), maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka." (HR. Tirmidzi,)

2. Pelajaran dan Pesan

Dunia ini ladang, akhirat adalah tempat panennya. Ilmu adalah kompasnya. Mengejar dunia tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan malam tanpa obor; kita mungkin berjalan cepat, tapi kita tidak tahu kapan akan masuk ke dalam jurang.

Bayangkan kisah seorang pemuda di zaman modern ini. Dia bekerja keras dari pagi buta hingga larut malam, mengumpulkan rupiah demi rupiah hingga tabungannya melimpah. Setiap kali diajak ke majelis ilmu, jawabannya selalu sama: "Nanti kalau sudah sukses dan pensiun." Tragisnya, seminggu sebelum usia pensiunnya tiba, Allah memanggilnya pulang dalam sebuah kecelakaan. Dia wafat membawa tumpukan harta yang tak bisa membantunya di alam kubur, namun miskin dari ilmu agama dan amal jariyah. Sungguh sebuah kerugian yang nyata.

Menuntut ilmu dan mencari nafkah itu ibarat kita mengendarai mobil di jalan raya. Mencari nafkah itu seperti melihat kaca spion—perlu dan penting supaya kita aman. Tapi menuntut ilmu itu seperti melihat kaca depan—itu yang menentukan arah ke mana kita pergi!

Nah, bayangkan kalau ada orang menyetir mobil, tapi matanya melotot ke kaca spion terus karena kagum melihat pemandangan di belakang, sementara kaca depannya malah ditutup koran. Apa yang terjadi? Tabrakan, bukan? Begitulah logikanya orang yang sibuk menghitung harta dunia tapi lupa belajar syariat. Nabraknya langsung ke akhirat!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia, kesibukan duniawi tidak akan pernah ada habisnya. Jika kita menunggu waktu "luang" untuk menuntut ilmu, kita tidak akan pernah menemukannya. Rahasianya bukan menunggu waktu luang, melainkan menyediakan waktu. Ilmu adalah modal utama agar dunia yang kita genggam bisa berkah dan bernilai ibadah.

Mari kita tata ulang prioritas kita. Jangan sampai kesibukan mencari penghidupan membuat kita lupa pada Al-Khaliq yang memberi kehidupan.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie