Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, ilmu adalah cahaya, sedangkan kebodohan adalah kegelapan yang pekat. Namun, dalam perjalanan menjemput cahaya itu, musuh terbesar kita seringkali bukan jarak yang jauh atau kitab yang tebal. Musuh terbesar itu bersemayam di dalam dada kita sendiri: Rasa malas dan perasaan bahwa kita tidak memiliki waktu.

Secara neurobiologis, rasa malas adalah jebakan zona nyaman saat otak enggan mengeluarkan energi untuk berpikir keras. Namun secara spiritual, malas adalah belenggu yang dipasang setan agar kita tetap berjalan dalam kegelapan.

Mari kita renungkan bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk tegas memerangi penyakit mental ini melalui doa beliau:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan rasa malas. ( HR : Al-Baihaqi , Al- Hakim )

Allah SWT juga mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai waktu, agar kita tidak menjadi hamba yang merugi karena selalu menunda-nunda kesempatan belajar:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.( Al- ‘Asr : 1-2 )

2. Pelajaran dan Pesan

Bayangkan sebuah pemandangan di masa lalu. Seorang ulama besar, Ibnu Aqil, menghabiskan puluhan tahun menulis kitab Al-Funun hingga mencapai 800 jilid. Tahukah Anda apa yang beliau lakukan demi menghemat waktu belajarnya? Beliau sengaja memilih makan roti yang dicelupkan ke dalam air daripada makan roti kering yang harus dikunyah. Beliau berkata sambil berkaca-kaca, "Aku tidak rela menyia-nyiakan waktu membaca hanya untuk mengunyah sepotong roti."

Sementara kita hari ini? Kita sering menangis menyedihkan bukan karena kehilangan waktu belajar, melainkan karena kuota internet habis saat sedang asyik scrolling media sosial tanpa arah. Kita merasa "tidak punya waktu" untuk membaca satu lembar ilmu, tapi punya waktu berjam-jam untuk melihat hidup orang lain. Sungguh, ini adalah kemiskinan waktu yang kita ciptakan sendiri.

Menuntut ilmu itu ibarat menanam pohon kurma super. Dia memerlukan waktu, ketekunan, dan kerelaan untuk merawat akarnya di dalam tanah yang gelap sebelum ia menjulang ke langit dan berbuah manis. Jika setiap kali rasa malas datang kita berhenti menyiramnya, maka pohon itu akan mati sebelum sempat memberikan keteduhan. Rasa malas adalah benalu. Jika Anda pelihara, dia akan mencekik potensi terbaik yang Allah titipkan di dalam diri Anda.

Ada cerita menggelitik tentang seseorang yang selalu beralasan, "Saya mau sekali ikut taklim dan membaca buku, tapi waktu saya habis untuk urusan domestik dan keluarga." Namun anehnya, ketika ada tetangganya yang sedang bertengkar, dia bisa berdiri di depan pagar selama dua jam penuh untuk menjadi "analis amatir" tanpa merasa lelah atau kehabisan waktu!

Ini membuktikan satu hal: Waktu itu sebenarnya ada, yang tidak ada adalah kemauan. Kita sering kali "sangat sibuk" hanya saat diajak melihat buku atau kitab ilmu. Begitu gawai berbunyi, mendadak kita punya waktu luang yang tak terbatas.

3. Kesimpulan dan Penutup

Sebagai kesimpulan, hambatan internal berupa malas dan merasa tidak punya waktu adalah ilusi yang diciptakan oleh lemahnya prioritas hidup. Waktu 24 jam yang dimiliki oleh para ulama besar terdahulu sama persis dengan 24 jam yang kita miliki hari ini. Bedanya, mereka memberkati waktu mereka dengan kesungguhan, sementara kita meleburnya dengan penundaan.

Saudara dan saudari yang berbahagia, mari kita lawan rasa malas ini. Paksa diri kita! Jika hari ini kita tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka esok hari kita harus bersiap menahan perihnya kebodohan.

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

".dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku'.( QS – Thaha : 114 )

Semoga Allah SWT membersihkan jiwa kita dari belenggu kemalasan dan memberkahi setiap detik waktu yang kita miliki untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui jalan ilmu.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie