Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita merasa patah semangat untuk belajar hanya karena tidak memiliki sarana yang lengkap? Ingin menulis tapi buku habis, ingin membaca tapi kitab tidak punya, atau ingin mengakses informasi bermanfaat tapi kuota internet dan perangkat tidak mendukung. Hambatan eksternal berupa fasilitas yang kurang memadai sering kali menjadi alasan utama bagi banyak orang untuk melempar handuk dan berkata, "Ah, saya tidak punya modal untuk jadi orang pintar."

Secara metodologi pendidikan, ketersediaan alat bantu (media pembelajaran) memang mempermudah transfer informasi. Namun secara spiritual-ilmiah, penentu utama meresapnya ilmu ke dalam dada bukanlah kelengkapan fasilitas lahiriah, melainkan keberkahan niat dan kesungguhan (kesabaran). Ilmu di dalam Islam diturunkan bukan sebagai komoditas yang harus dibeli dengan fasilitas mewah, melainkan anugerah yang dikejar dengan pengorbanan jiwa.

Mari kita seukkan jiwa kita dengan firman Allah SWT yang menegaskan bahwa Dia menguji hamba-Nya dengan kekurangan harta benda (termasuk fasilitas hidup), namun ujian itu adalah gerbang kemuliaan bagi mereka yang bersabar:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

Bagi Anda yang terus berjuang mengais ilmu di tengah keterbatasan sarana, Rasulullah SAW memberikan jaminan bahwa setiap kesulitan yang menghalangi langkah fisik kita akan dinilai sebagai jihad, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan nilai lelah tersebut:

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

"Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali." (HR. Tirmidzi )

2. Pelajaran dan Pesan

Fasilitas yang serba ada terkadang membuat manusia manja dan melalaikan esensi ilmu. Sebaliknya, keterbatasan sarana memaksa kreativitas kita bangkit dan melatih mental kita menjadi pejuang sejati. Kekayaan hakiki seorang penuntut ilmu terletak pada rasa lapang di dalam hatinya, bukan pada mewahnya alat-alat di mejanya.

Mari kita kenang kisah pilu namun agung dari daerah yang dilanda musibah dan bencana besar. Ketika sebuah lembaga pendidikan atau pesantren hancur lebur diterjang air bah, seluruh fasilitas—mulai dari gedung, perpustakaan, kitab-kitab, hingga lembar-lembar catatan santri—hanyut tak bersisa menjadi lumpur.

Keesokan harinya, di atas puing-puing reruntuhan, terlihat seorang guru duduk di atas batang pohon yang tumbang, mengajar murid-muridnya yang duduk beralaskan tanah basah. Mereka belajar tanpa papan tulis, tanpa buku, dan tanpa pena. Seorang santri kecil tampak menangis pelan sambil menuliskan baris-baris hafalan hadis di atas permukaan tanah menggunakan sepotong ranting kayu yang patah. Ketika air matanya jatuh membasahi tulisan di tanah itu, ia berbisik, "Ustaz, kitab kami sudah hilang, tapi tolong jangan biarkan hafalan di dada kami ikut hanyut." Sungguh sebuah pemandangan yang mengiris kalbu, sekaligus menjadi tamparan keras bagi kita yang fasilitasnya utuh namun malasnya luar biasa.

Menuntut ilmu dengan fasilitas yang minim itu ibarat kita sedang memasak nasi secara tradisional memakai kayu bakar di dapur kampung. Memang prosesnya lama, mata perih kena asap, dan tangan hitam kena arang. Tapi tahu tidak? Nasi yang dimasak pakai kayu bakar itu aromanya jauh lebih wangi dan rasanya jauh lebih pulen!

Bandingkan dengan orang yang memasak pakai magic com digital serba otomatis (ibarat orang belajar yang fasilitasnya serba mewah, tinggal klik langsung keluar data). Begitu listrik mati atau alatnya rusak sedikit saja, langsung kelaparan dan tidak bisa makan! Begitulah logikanya. Penuntut ilmu yang lahir dari rahim keterbatasan sarana biasanya memiliki "daya tahan" yang luar biasa. Saat fasilitas internet mati atau buku tidak ada, mereka tidak mati gaya; otak mereka sudah terlatih berpikir mandiri dan mengandalkan hafalan dada. Jadi, minim fasilitas itu bukan pertanda kiamat, tapi pertanda kita sedang dilatih menjadi koki ilmu kelas kakap!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , jangan pernah menjadikan tiadanya fasilitas sebagai alasan untuk berhenti melangkah. Jika kita tidak punya buku, gunakan telinga kita untuk mendengar dengan tajam. Jika kita tidak punya biaya untuk membeli kitab tebal, manfaatkan teknologi di genggaman untuk mencari lembar-lembar ilmu yang gratis namun sahih.

Ingatlah, para ulama terdahulu menulis kitab-kitab monumental yang kita baca hari ini bukan di atas laptop yang canggih, melainkan di atas pelepah kurma, kulit binatang, dan batu-batu pipih di tengah keterbatasan. Sarana boleh kurang, tetapi semangat memuliakan warisan nabi harus tetap penuh di dalam dada.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie