Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Sahabat yang dirahmati Allah, secara etimologi, kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘alima yang berarti mengetahui. Namun secara maknawi dan epistemologi Islam, ilmu bukan sekadar tumpukan informasi atau data statistik di dalam otak. Ilmu secara ilmiah Islam adalah "ma’rifah"—sebuah penyingkapan kebenaran yang melahirkan keyakinan, menghilangkan keraguan, dan menuntun pemiliknya kepada esensi penciptaan.
Dalam Islam, ilmu sejati selalu berkelindan dengan nur (cahaya) ilahi. Ilmu yang tidak menuntun pemiliknya pada kebenaran hakiki dan pengenalan kepada Sang Pencipta belumlah disebut ilmu yang utuh, melainkan baru sebatas persangkaan atau keahlian teknis semata.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu). Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.( QS. Fatir: 28)
Definisi ilmu dalam Islam juga melekat pada aspek kebermanfaatan dan buahnya dalam kehidupan nyata. Rasulullah SAW mengajari kita sebuah doa standar agar tidak terjebak pada definisi ilmu yang salah (ilmu yang hanya jadi beban memori):
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan." HR. Muslim
2. Pelajara dan Pesan
Pesan moral utama dari definisi ilmu ini adalah: Tolok ukur keberhasilan belajar bukan pada seberapa banyak kita menghafal, melainkan seberapa takut kita kepada Allah dan seberapa santun kita kepada sesama. Jika makin tinggi sekolah kita, makin mahir kita berbohong; atau makin banyak kitab yang kita baca, makin merendahkan orang lain, maka hakikatnya kita belum "berilmu", kita baru sekadar "tahu".
Mari kita kenang kisah Imam Syafi'i saat beliau masih muda. Beliau dikenal memiliki daya ingat yang luar biasa, namun suatu hari hafalannya mendadak lambat dan buyar. Dengan hati yang sedih dan gundah, beliau mengadu kepada gurunya, Imam Waki'.Sang guru tidak menyuruhnya membaca lebih keras, melainkan menyuruhnya memeriksa hatinya. Ternyata, Imam Syafi'i tidak sengaja melihat pergelangan kaki seorang wanita yang bukan mahramnya saat di pasar.
Kisah ini diabadikan dalam syairnya yang menyayat hati: "Aku mengadu kepada Waki' tentang buruknya hafalanku, maka beliau membimbingku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberi tahu aku bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat."
Sungguh menyedihkan jika hari ini kita melihat ilmu dikejar di tengah-tengah kubangan maksiat dan hilangnya rasa malu, sehingga ilmu itu kehilangan keberkahannya.
Definisi ilmu dalam Islam itu ibarat akar pohon yang menghujam ke dalam tanah. Informasi atau teori luar hanyalah seperti daun dan ranting. Pohon yang rimbun daunnya tapi rapuh akarnya akan tumbang ditiup angin kencang (seperti orang pintar yang mudah goyah imannya saat diuji).
Ilmu dalam Islam harus menghujam ke dalam kalbu, menutrisi jiwa, dan secara otomatis menghasilkan buah berupa amal saleh, akhlak yang ranum, dan keteduhan bagi orang-orang yang berteduh di bawahnya.
Ada cerita tentang seekor keledai yang dipakaikan pelana berisi tumpukan kitab-kitab tebal milik seorang ulama besar. Keledai itu berjalan dengan gagah melintasi kampung, merasa dirinya sangat dihormati karena membawa "ilmu" yang sangat banyak.Tiba-tiba di tengah jalan, ada rumput hijau. Si keledai langsung melahapnya sambil menendang-nendang warga di sekitarnya.
Hikmahnya: Fenomena ini menyindir manusia yang mengumpulkan ratusan gelar, membaca ribuan artikel, atau menyimpan ratusan PDF kitab di ponselnya, tapi kelakuannya tidak berubah menjadi lebih bijaksana. Ingat, menyimpan data ilmu tidak otomatis membuat kita menjadi berilmu. Jangan sampai kita menjadi seperti perumpamaan yang disinggung dalam Al-Qur'an: "seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal" (QS. Al-Jumu'ah: 5)—bawaannya berat, tapi esensinya tidak paham sama sekali.
3. Kesimpulan dan Penutup
Sahabat sekalian, mari kita luruskan kembali pemahaman kita. Ilmu dalam Islam bukan sekadar komoditas komersial untuk mencari makan atau panggung pujian. Ilmu adalah sifat Allah yang dititipkan di bumi untuk menuntun manusia kembali kepada-Nya dalam keadaan selamat dan mulia. Ilmu adalah pengetahuan yang menyalakan cahaya di hati dan menggerakkan tangan untuk beramal.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan intelektual dan membimbing kita untuk mendapatkan ilmu yang sejati, ilmu yang menyejukkan dunia dan menyelamatkan akhirat.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie