Bayangkan Anda menerima surat cinta dari seseorang yang paling Anda kagumi di alam semesta. Anda tentu tidak akan menganggap surat itu hanyalah tumpukan kertas dan tinta, bukan? Anda akan merasakan "kehadiran" pengirimnya di setiap kata.
Begitulah Al-Qur'an. Ia adalah Kalamullah yang Hakiki. Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah yang terdiri dari huruf dan makna. Allah benar-benar berfirman dengannya, bukan sekadar "ilham" yang ditangkap oleh malaikat atau Nabi.
Dalil dari Al-Qur'an
Allah SWT menegaskan bahwa Beliau benar-benar berbicara:
وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ
"Dan kepada Musa, Allah bagi benar-benar telah berfirman." (QS. An-Nisa: 164)
Jika Allah saja mau "berbicara" kepada kita melalui kitab-Nya, betapa sombongnya kita jika tidak punya waktu untuk "mendengarkan-Nya" dengan membaca Al-Qur'an.
1. Al-Qur'an Itu "Qadim", Bukan Makhluk
Di sinilah letak keagungan-Nya. Al-Qur'an adalah sifat Allah (Sifat Kalam). Karena Allah bukan makhluk, maka sifat-Nya pun bukan makhluk.
Ibaratnya begini (dengan sedikit humor): Kalau ada orang bilang Al-Qur'an itu makhluk, berarti firman Allah itu punya masa kedaluwarsa seperti susu kotak atau bisa rusak seperti mesin cuci. Padahal, Al-Qur'an itu abadi dan suci karena ia bersumber dari Dzat yang Maha Abadi.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan Kalamullah:
فَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ
(Fadhlu kalāmullāhi ‘alā sā’iril-kalāmi kafadhlillāhi ‘alā khalqihi)
"Keutamaan firman Allah atas segala perkataan lainnya adalah seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya." (HR. Tirmidzi)
2. Huruf dan Makna: Satu Kesatuan yang Utuh
Kalamullah yang kita baca dengan lisan, kita tulis dalam mushaf, dan kita hafal dalam dada adalah benar-benar firman Allah. Meskipun kertasnya makhluk, tintanya makhluk, dan suara kita makhluk, namun isi yang disampaikan adalah murni dari Allah.
Allah berfirman:
وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّٰهِ
(Wa in ahadum minal-musyrikīnastajāraka fa ajirhu hattā yasma‘a kalāmallāh)
"Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia dapat mendengar Kalam Allah (Firman Allah)." (QS. At-Tawbah: 6)
3. Pesan Penting :
- Bayangkan sebuah pelita di tengah malam yang paling pekat. Pelita itu tidak akan pernah padam karena minyaknya berasal dari langit. Itulah Al-Qur'an di dalam hati seorang mukmin.
- Perhatikan ayat di atas: Allah menyebut apa yang didengar oleh telinga manusia itu sebagai "Kalam Allah", bukan "Hikayat tentang Kalam Allah".
4. Anekdot :
Jangan sampai kita lebih hafal caption media sosial orang lain daripada ayat-ayat Allah. Ingat, caption manusia sering kali penuh drama, tapi Kalam Allah penuh dengan pahala dan ketenangan jiwa.
5. Kesimpulan & Pesan :
Membaca Al-Qur'an adalah saat di mana jarak antara hamba dan Pencipta menjadi sangat dekat. Saat Anda membaca Bismillah, Anda sedang memulai sebuah percakapan agung.
Jadikanlah Al-Qur'an sebagai sahabat. Karena saat semua orang meninggalkan kita di liang lahat, hanya "Kalamullah" ini yang akan tetap setia menemani dan memberi syafaat.
Abu Sultan Al-Qadrie