Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Keadilan (Al-’Adl) dalam perspektif Wasathiyah bukanlah sekadar membagi sama rata, melainkan menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya (wad’u syai’in fi mahallihi). Secara psikologis, jiwa yang adil adalah jiwa yang tenang karena ia tidak terbebani oleh kezaliman terhadap diri sendiri maupun orang lain. Ketika kita hidup dengan prinsip Istiqamah, kita membangun ketahanan mental (resiliensi). Kita tidak mudah goyah oleh pujian yang membuat kita melampaui batas (Ifrath), dan tidak hancur oleh cercaan yang membuat kita abai (Tafrith). Keadilan adalah gravitasi bagi ruh agar tetap berpijak pada kebenaran.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa..." (QS. Al-Ma'idah: 8)
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
"Katakanlah: 'Aku beriman kepada Allah', kemudian istiqamahlah (teguh pendirianlah)." (HR. Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Menjadi adil berarti berani jujur sejak dalam pikiran. Jangan sampai rasa suka kita kepada seseorang membuat kita menutup mata dari kesalahannya, dan jangan sampai rasa benci kita kepada seseorang membuat kita buta akan kebaikannya. Istiqamah di jalan tengah adalah keberanian untuk tetap waras di tengah dunia yang seringkali menuntut kita untuk memilih satu kutub ekstrem.
Teringat kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib yang kehilangan baju besinya. Beliau melihat baju itu dijual oleh seorang Nasrani di pasar. Meski beliau adalah seorang pemimpin tertinggi, beliau tidak merampasnya. Beliau membawa masalah ini ke pengadilan. Hakim Syuraih bertanya, "Mana buktinya wahai Amirul Mukminin?" Karena Ali tidak punya bukti kuat, hakim memenangkan pria Nasrani tersebut. Melihat keadilan Islam yang begitu luar biasa—dimana seorang pemimpin bisa kalah melawan rakyat jelata yang berbeda agama demi hukum yang adil—pria Nasrani itu menangis, masuk Islam, dan mengembalikan baju besi itu. Keadilan adalah dakwah yang paling menyentuh jantung hati.
Bayangkan seorang Pemain Akrobat yang berjalan di atas tali yang tinggi. Dia memegang galah panjang untuk keseimbangan. Jika dia condong terlalu ke kanan (Ifrath), dia jatuh. Jika terlalu ke kiri (Tafrith), dia juga jatuh. Galah itu adalah syariat, dan konsistensinya berjalan selangkah demi selangkah hingga ke ujung adalah Istiqamah. Wasathiyah adalah seni menjaga titik berat agar kita tidak terlempar dari tali shirathal mustaqim kehidupan.
Ada seseorang yang ingin "adil" dalam bersedekah di masjid. Dia punya uang 100 ribu dan 2 ribu rupiah di kantongnya. Saat kotak amal lewat, dia memejamkan mata, mengaduk-aduk kantongnya, dan berkata, "Ya Allah, biarkan tangan ini bekerja secara adil tanpa intervensi mata saya." Eh, yang keluar malah uang 100 ribu. Dia pun berkeringat dingin dan mencoba mengambilnya kembali. Temannya berbisik, "Lho, tadi katanya mau adil?" Dia menjawab, "Iya, tapi ini mah namanya 'kecelakaan' yang sangat tidak adil buat dompet saya!" Hikmahnya: Adil itu butuh ilmu dan kerelaan hati, bukan sekadar tutup mata!
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , Wasathiyah adalah jalan yang lurus (Istiqamah) di antara dua jurang ekstrem. Ia memberi hak kepada tubuh untuk istirahat, hak kepada ruh untuk ibadah, dan hak kepada sesama untuk dihargai. Mari kita memohon kepada Allah agar hati kita tidak condong kepada kebatilan setelah Dia memberikan petunjuk-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie