Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Secara epistemologi, keberagamaan yang kaku sering kali lahir dari kegagalan memahami skala prioritas. Fiqh al-Awlawiyyat (Prioritas), Fiqh al-Muwazanat (Keseimbangan), dan Fiqh al-Waqi’ (Realitas) adalah perangkat navigasi mental yang menyejukkan. Ilmu ini mengajarkan bahwa agama bukan sekadar teks yang beku, melainkan petunjuk yang hidup. Memahami kapan harus mendahulukan kewajiban sosial di atas ibadah sunnah personal adalah bentuk kecerdasan spiritual yang menjaga kesehatan mental dan harmoni sosial kita.
Dalil Al-Qur'an dan Hadis
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ ٱلْحَاجِّ وَعِمَارَةَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَجَٰهَدَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُونَ عِندَ ٱللَّه
"Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu buat sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah." (QS. At-Tubah: 19)
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقًّ حَقَّهُ
"Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya masing-masing." (HR. Bukhari)
2. Pelajaran dan Pesan
Kebaikan yang dilakukan di waktu yang salah bisa menjadi sebuah keburukan. Orang yang bijak adalah mereka yang mampu membaca realitas; mereka yang tahu bahwa tersenyum kepada ibu yang sedang sakit jauh lebih utama daripada mengejar shalat sunnah berkaat-kaat namun membiarkan ibunya kesepian. Itulah keseimbangan (muwazanat) yang hakiki.
Pernahkah kita mendengar kisah Abdullah bin Mubarak, sang ulama besar? Saat dalam perjalanan haji, beliau melihat seorang anak kecil memungut bangkai ayam di tempat sampah untuk dimakan keluarganya karena kelaparan. Tanpa ragu, beliau membatalkan hajinya, memberikan seluruh bekal uang hajinya kepada keluarga fakir tersebut, dan pulang ke rumahnya. Beliau mendahulukan nyawa manusia (realitas) di atas ibadah haji yang sunnah baginya saat itu. Malamnya, banyak jamaah haji bermimpi bahwa haji yang paling diterima Allah adalah hajinya Abdullah bin Mubarak, meski beliau tidak sampai ke Makkah.
Beragama tanpa memahami fikih prioritas itu ibarat mengguyur tanaman di tengah hujan lebat. Niatnya baik, ingin memberi air, tapi realitasnya tanaman itu sudah cukup air. Jika diteruskan, akarnya justru membusuk. Seorang Muslim yang wasathiyah tahu kapan harus membawa payung, kapan harus membawa ember, dan kapan harus diam memperhatikan cuaca
Ada tipe orang yang semangat agamanya membara, tapi fikih realitasnya rendah. Contohnya, ada seorang suami yang ingin berdakwah sampai ke luar kota selama berbulan-bulan, tapi di rumah istrinya sedang bingung karena tabung gas habis dan anak-anak belum bayar SPP. Si suami bilang, "Tenang, Allah akan menjaga kalian!". Ini namanya bukan tawakal, tapi "tawakal kreatif" untuk menghindari tanggung jawab. Jangan sampai kita sibuk mengurus "surga" di kejauhan, tapi menciptakan "neraka" di dalam rumah sendiri.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saudara dan saudari yang berbahagia , Wasathiyah adalah seni menempatkan sesuatu pada tempatnya. Mari kita terus belajar membedakan mana yang penti
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie