Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pembukaan
Dalam dunia manufaktur, setiap perangkat canggih selalu disertai dengan Standard Operating Procedure (SOP). Secara biologis dan psikologis, manusia adalah "perangkat" paling kompleks di alam semesta. Sistem saraf, hormon, dan kesadaran kita memiliki ritme yang presisi. Syariat Allah bukanlah intervensi luar yang mengganggu, melainkan algoritma orisinal yang dirancang agar seluruh sistem dalam diri kita bekerja dalam harmoni. Ketika kita hidup sesuai aturan-Nya, kita sebenarnya sedang meminimalisir "friksi" batin. Ketenangan jiwa muncul saat terjadi sinkronisasi antara perilaku lahiriah dengan cetak biru (blueprint) ruhani yang telah Allah tanamkan sejak dalam kandungan.
Allah Ta’ala menegaskan bahwa Dia-lah pemilik desain manusia yang paling detail:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
"Apakah (pantas) Zat yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (QS. Al-Mulk: 14)
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ketaatan adalah kunci kebaikan seluruh anggota tubuh:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itu adalah hati." (HR. Bukhari & Muslim)
2. Pelajaran dan Pesan
Banyak dari kita merasa lebih tahu cara mengelola hidup daripada Sang Pencipta Hidup. Kita mencoba "memodifikasi" aturan moral dan gaya hidup demi tren, namun yang kita dapatkan justru kerusakan mental dan kehancuran sosial. Jangan sombong dengan merasa sanggup mengatur hidup tanpa panduan-Nya. Mengikuti syariat bukan tentang membatasi kebebasan, tapi tentang menjaga agar "mesin" hidupmu tidak meledak karena salah pengoperasian.
Ada seorang pria yang hidupnya hancur karena kecanduan dan pergaulan bebas. Di titik terendahnya, ia bersujud dan berkata, "Ya Allah, aku sudah mencoba hidup dengan caraku dan aku gagal total. Sekarang, aku pasrahkan hidupku pada cara-Mu." Ajaibnya, perlahan tapi pasti, kesehatan mentalnya membaik, hubungannya dengan keluarga pulih, dan ia menemukan ketenangan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Ia menangis menyadari bahwa selama ini ia sedang "berperang" melawan fitrahnya sendiri. Ternyata, pulang kepada aturan Allah adalah cara tercepat untuk menemukan diri yang hilang.
Bayangkan Anda membeli sebuah mobil mewah seharga miliaran rupiah. Di buku panduan tertulis mobil itu harus diisi bensin, tapi Anda nekat mengisinya dengan air sirup karena merasa air sirup lebih manis dan murah. Apa yang terjadi? Mobil itu akan mogok dan mesinnya hancur. Bukan pabriknya yang jahat dengan memberi aturan "harus bensin", tapi Anda yang tidak mengerti setting-an mesinnya. Syariat adalah "Bensin" bagi jiwa; ia memang memiliki aturan, tapi itulah satu-satunya cara agar Anda bisa melaju kencang menuju tujuan
Ada orang yang protes, "Kenapa sih Islam melarang ini-itu? Allah kan nggak rugi kalau aku maksiat." Seorang bijak menjawab, "Memang Allah nggak rugi. Tapi kalau kamu pakai smartphone buat ulek sambal karena merasa itu 'hak asasi' kamu sebagai pemilik, yang rugi siapa? HP-mu hancur, sambalmu nggak halus, tanganmu lecet. Allah memberi aturan bukan karena Dia butuh ketaatanmu, tapi karena Dia nggak mau kamu jadi 'smartphone' yang berakhir jadi ulekan!" Hikmahnya: Aturan Allah adalah cara Dia menjaga martabat kita agar tetap menjadi manusia, bukan sekadar onggokan daging yang bergerak tanpa arah.
3. Kesimpulan dan Penutup
Saauadaraku yang berbahagia, hidup akan terasa ringan jika kita berhenti mencoba menjadi "Tuhan" bagi diri sendiri. Allah adalah Sang Desainer, dan Dia telah memberikan setting-an terbaik melalui Islam agar kita berfungsi dengan sempurna. Mari kembali ke Factory Setting kita—yaitu pengabdian kepada-Nya—dan rasakan betapa hidup ini sebenarnya sangat nikmat jika dijalankan sesuai prosedur-Nya.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie