Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
1. Pengantar
Para Sahabat yang selalu dirindukan surga, dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan godaan ini, hati kita sering kali dihadapkan pada persimpangan jalan. Jalan menuju ketaatan terkadang terlihat mendaki dan sepi, sedangkan jalan menuju dosa sering kali tampak menurun, mulus, dan ramai peminat. Di sinilah kita membutuhkan Ilmu sebagai kompas penuntun jalan.
Ilmu bukan sekadar wawasan, melainkan jangkar yang menancapkan rasa takut dan cinta kepada Allah di dalam dada. Ketika ilmu telah meresap ke dalam jiwa, ia akan melahirkan khasyyah (rasa takut yang mengagungkan), yang secara otomatis membimbing raga kita untuk taat dan membentengi diri dari kemaksiatan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu)." (QS. Fatir: 28)
Bagaimana ilmu bisa menuntun kita pada ketaatan? Karena orang yang berilmu tahu persis siapa yang dia sembah dan apa dampak dari setiap butir dosa yang dia perbuat. Ilmu memberikan kekebalan imun pada hati agar tidak mudah terinfeksi penyakit syahwat.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengaitkan kebaikan hidup seseorang dengan pemahaman agamanya:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan dipahamkan dia dalam urusan agamanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Pelajara dan Pesan
Ilmu adalah pelindung terbaik. Pesan moral utamanya: Ketaatan tanpa ilmu itu rapuh, dan kemaksiatan tanpa ilmu itu menghancurkan. Orang yang beribadah tanpa ilmu bagaikan membangun istana di atas pasir, mudah runtuh diterjang ombak ujian. Sedangkan dengan ilmu, kita tahu cara bertaubat saat terjatuh dan tahu cara bertahan saat badai godaan dosa menyerang.
Mari kita petik hikmah dari kisah seorang ulama besar, Tabi'in yang agung, Said bin Al-Musayyib rahimahullah. Beliau adalah seorang yang sangat berilmu dan hidup dalam kesederhanaan. Suatu hari, penguasa dinasti Umayyah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan, melamar putri Said bin Al-Musayyib untuk dinikahkan dengan putra mahkotanya, Al-Walid, yang kelak akan menjadi raja diraja dunia. Tawaran yang sangat menggiurkan bagi siapa saja yang haus dunia.
Namun, dengan ketajaman ilmunya, Said bin Al-Musayyib menolak lamaran sang putra mahkota secara halus. Beliau justru menikahkan putrinya dengan salah seorang muridnya yang miskin jelata bernama Abu Wada'ah, hanya dengan mahar beberapa dirham saja.
Ketika muridnya terheran-heran dan bertanya mengapa beliau menolak istana demi pemuda miskin, Said menangis dan berkata: "Aku adalah seorang ayah yang bertanggung jawab atas keselamatan akhirat putriku. Jika dia masuk ke istana, kemegahan dunia akan melalaikannya dari ketaatan dan menyeretnya pada dosa kemewahan. Aku lebih memilih putriku hidup miskin namun agamanya terjaga, daripada hidup mulia di dunia namun binasa di akhirat." Ilmu telah menuntun Said untuk menyelamatkan keluarganya dari fitnah dunia.
Ilmu itu ibarat sistem pengereman otomatis dan GPS (peta digital) pada sebuah mobil canggih yang sedang melaju di jalanan berliku tajam di tepi jurang.
Orang yang berjalan tanpa ilmu seperti menyetir mobil tanpa rem dan tanpa peta di malam hari. Ketika ada tikungan tajam bernama "Dosa", dia tidak tahu ada bahaya di depan dan tidak punya "rem" untuk berhenti, sehingga langsung terjun bebas ke jurang kebinasaan. Sebaliknya, orang yang berilmu, "GPS"-nya akan berbunyi memberi peringatan dini, dan "rem" ketaatannya akan mencengkeram kuat sebelum roda maksiat tergelincir.
Zaman sekarang, banyak orang yang ingin menghindari dosa tapi enggan belajar ilmunya. Akhirnya, terjadilah fenomena kocak di masyarakat.
Ada orang yang saking takutnya kena dosa riba, dia tidak mau simpan uang di bank. Tapi anehnya, dia malah pinjam uang ke tetangga dengan perjanjian: "Bro, saya pinjam 5 juta ya, nanti bulan depan saya kembalikan 6 juta. Tapi ini bukan riba ya, ini namanya uang terima kasih dan jabat erat kekeluargaan!"
Nah, ini dia! Mau menghindari dosa tapi karena tidak punya ilmu, malah terjebak ke dalam dosa yang sama, cuma ganti casing dan nama saja. Itulah gunanya ilmu, sahabat, supaya kita tidak ditertawakan oleh setan karena kebodohan kita sendiri!
3. Kesimpulan dan Penutup
Ilmu adalah cahaya yang menyingkap tabir tipu daya setan. Dengan ilmu, ketaatan menjadi terasa manis dan ringan karena dilakukan atas dasar cinta dan pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan. Dengan ilmu pula, dosa terlihat menjijikkan meskipun dibungkus dengan bungkus yang sangat indah. Tanpa ilmu, kita akan tersesat; dengan ilmu, insyaAllah kita akan selamat sampai ke akhirat.
Sahabat sekalian, mari kita jadikan media sosial kita ini sebagai majelis ilmu mikro. Kurangi menonton konten yang memicu syahwat dan dosa, perbanyak menyimak konten yang menambah kedekatan kita kepada Allah. Ingat, setiap ketukan jari kita di layar gawai ini akan dimintai pertanggungjawaban.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat, yang mampu menggerakkan hati kita untuk taat dan membentengi diri kita dari segala bentuk maksiat.
والله أعلم بالصواب
الحمد لله رب العالمين
Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.
ِAbu Sultan Al-Qadrie