Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Para sahabat yang dirahmati Allah, pernahkah kita berkendaraan di tengah malam yang gelap gulita tanpa lampu sorot? Pasti kita akan diselimuti rasa cemas, takut terperosok ke dalam jurang atau menabrak pembatas jalan. Begitulah perumpamaan hidup manusia di dunia tanpa adanya Ilmu.

Ilmu bukan sekadar maklumat yang mampir di kepala, melainkan nur (cahaya) yang Allah pancarkan ke dalam dada seorang hamba untuk menuntunnya di tengah kegelapan zaman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

"Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?" (QS. Al-An'am: 122)

Tanpa cahaya ilmu, seseorang akan buta arah—menyamakan yang halal dengan yang haram, serta mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil. Padahal, batasan antara keduanya harus sangat jelas agar kita selamat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَلَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia." (HR. Bukhari dan Muslim)

Melalui ilmu syariat, Allah memberikan kita kemampuan Al-Furqan—yaitu kemampuan memisahkan antara kebenaran yang menyelamatkan dan kebatilan yang menjerumuskan.

2. Pelajaran dan Pesan

Ilmu adalah navigator terbaik bagi kompas moral kita. Pesan pentingnya: Jangan pernah melangkah sebelum tahu ilmunya. Di zaman penuh hoaks, pembenaran atas dosa, dan samarnya batasan moral saat ini, ilmu bertindak sebagai rem darurat yang menjaga kita agar tidak tergelincir memakan yang haram demi gaya hidup atau gengsi duniawi.

Mari kita renungkan kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, beliau sedang menyelesaikan tugas negara di ruang kerjanya di bawah penerangan sebuah lampu minyak milik baitul mal (negara). Tiba-tiba, salah seorang putranya masuk ke ruangan untuk membicarakan urusan keluarga.

Apa yang dilakukan Sang Khalifah? Beliau langsung meniup dan memadamkan lampu tersebut hingga ruangan menjadi gelap gulita. Ketika putranya bertanya mengapa, Umar dengan suara bergetar dan air mata berlinang menjawab: "Wahai anakku, lampu ini dinyalakan dengan minyak yang dibeli dari uang rakyat untuk urusan negara. Aku takut kepada Allah jika aku menggunakan fasilitas rakyat walau hanya setetes minyak untuk urusan pribadi kita."

Inilah kedahsyatan ilmu yang menjelma menjadi rasa takut kepada Allah (khasyyah), membuat seseorang mampu membedakan dengan sangat tegas mana haknya dan mana yang haram baginya.

Ilmu itu ibarat alat tes keaslian uang (sinar UV) yang dibawa oleh seorang pedagang. Di pasar yang penuh dengan peredaran uang palsu, pedagang yang tidak punya alat atau ilmu untuk mengeceknya akan mudah tertipu. Dia mengira telah untung besar, padahal kantongnya penuh dengan kertas yang tidak berharga.

Sama halnya dengan hidup. Dunia ini penuh dengan "kesenangan palsu" yang dikemas seolah-olah indah (bathil tapi tampak haq). Tanpa alat sensor berupa ilmu, kita akan mengira sedang mengumpulkan pahala, padahal sedang menumpuk dosa.

Bicara soal membedakan halal-haram, kadang-kadang logika manusia tanpa ilmu itu suka mengada-ada demi meloloskan keinginan.

Ada cerita seseorang yang hobi meminjam barang tetangga tapi lupa mengembalikan alias keterusan jadi hak milik. Ketika ditegur, dengan santai dia menjawab: "Lho, di medsos kan lagi viral konsep 'sharing is caring', lagian saya pakai barang ini sambil berzikir, jadi insyaAllah haramnya luntur berubah jadi syariah!"

Nah, ini namanya memaksakan yang bathil dibungkus label saleh. Di sinilah fungsi ilmu; agar kita tidak membuat fatwa sendiri sesuai selera nafsu kita. Halal dan haram itu mutlak ketetapan Allah, bukan hasil voting netizen!

3. Kesimpulan dan Penutup

Ilmu adalah satu-satunya pelita yang tidak akan pernah padam di kala badai syubhat dan syahwat melanda dunia. Dengan ilmu, kita memiliki mata batin yang tajam untuk mendeteksi mana yang haq dan mana yang bathil. Membawa diri berjalan di atas jalur yang halal mungkin terasa berat dan penuh keterbatasan, namun itulah satu-satunya jalan yang berujung pada ketenangan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Saudara dan saudari yang berbahagia , mari kita luangkan waktu di sela kesibukan scrolling media sosial kita untuk duduk di majelis ilmu, membaca kitab para ulama, dan memperdalam pemahaman agama. Mintalah selalu petunjuk kepada Allah agar hati kita tidak dibutakan oleh kebatilan yang tampak berkilau.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menerangi hati dan langkah kita dengan cahaya ilmu-Nya, serta menguatkan kaki kita untuk tetap berdiri di atas kebenaran.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie