Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Penganrtar

Sahabat yang dirahmati Allah, secara statistik dan konseptual, Al-Qur'an adalah kitab suci yang luar biasa dalam meletakkan dasar ilmiah. Kata 'ilm beserta seluruh derivasinya (akar katanya) disebut sebanyak lebih dari 800 kali di dalam Al-Qur'an. Ini menempatkan ilmu sebagai kata kunci ketiga yang paling banyak disebut setelah kata Allah dan Rabb. Secara epistemologi, ini membuktikan bahwa Islam bukanlah agama mistis yang buta, melainkan agama yang fondasi utamanya tegak di atas ilmu pengetahuan.

Dalam Al-Qur'an dan Hadis, ilmu diposisikan sebagai "hak istimewa" yang mengangkat harkat kemanusiaan di atas makhluk lainnya. Ketika Allah SWT ingin menunjukkan kelebihan Nabi Adam AS di hadapan para malaikat, instrumen yang digunakan bukanlah kekuatan fisik atau intensitas ibadah, melainkan kapasitas intelektual berupa penguasaan ilmu nama-nama benda (ma'rifatul asma').

Allah SWT menegaskan bagaimana Al-Qur'an diturunkan sebagai pembeda bagi mereka yang berpikir:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

"Sebenarnya, (Al-Qur'an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang zalim.( QS. Al-'Ankabut: 49 )

Rasulullah SAW juga menegaskan dalam garis panduan hadisnya bahwa warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh para nabi bukanlah tumpukan materi atau kekuasaan, melainkan warisan intelektual dan spiritual bernama ilmu:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

"Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak. ( HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

2. Pelajara dan Pesan

Pesan moral tertinggi yang diajarkan oleh Al-Qur'an dan Hadis tentang ilmu adalah kewajiban untuk menjadi manusia yang objektif dan jujur. Al-Qur'an sangat melarang kita berbicara, bertindak, atau menghakimi sesuatu tanpa landasan data dan validasi ilmu yang jelas. Menjadi orang Islam yang baik berarti menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap setiap informasi yang disebarkan, terutama di era banjir informasi media sosial saat ini.

Mari kita kenang sebuah peristiwa mengharukan di masa sahabat. Ketika Rasulullah SAW wafat, Kota Madinah dirundung kesedihan yang teramat dalam, hingga sebagian sahabat kehilangan pegangan hidup sesaat. Di tengah suasana duka itu, Abu Hurairah RA pergi ke pasar dan berteriak, "Wahai orang-orang di pasar, mengapa kalian sibuk berdagang di sini, padahal warisan Rasulullah SAW sedang dibagikan di dalam masjid?"

Orang-orang pasar pun langsung berlarian ke masjid dengan harapan mendapatkan bagian emas, perak, atau unta. Namun sesampainya di sana, mereka hanya mendapati lingkaran-lingkaran orang yang sedang belajar Al-Qur'an, membahas halal-haram, dan mengaji hadis. Mereka kembali ke pasar dengan bingung dan berkata, "Abu Hurairah, kami tidak melihat harta apa pun dibagikan." Abu Hurairah tersenyum haru seraya berkata, "Itulah warisan Muhammad SAW yang sejati."

Hal yang menyedihkan hari ini: kita sering berebut mati-matian hingga saling sikut demi mengejar sisa-sisa harta duniawi, sementara "warisan" suci yang ditinggalkan langsung oleh Rasulullah SAW di dalam Al-Qur'an dan Hadis sering kali kita telantarkan begitu saja.

ilmu di dalam Al-Qur'an dan Hadis itu diibaratkan seperti hujan lebat yang menyirami berbagai jenis karakter tanah di bumi.

Ada jenis tanah yang subur: ia menyerap air hujan itu dengan baik, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang hijau dan berbuah lebat bagi makhluk lain (tamsilan orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkannya).

Ada jenis tanah yang berbatu: ia tidak bisa menumbuhkan tanaman, tapi mampu menampung air hujan itu sehingga bisa menjadi telaga tempat minum bagi manusia dan hewan (tamsilan orang yang menghafal ilmu dan menyebarkannya meski belum paham mendalam).

Dan ada jenis tanah yang tandus (qi'an): ia tidak menyerap air dan tidak pula menampungnya; air lewat begitu saja dan tanah tetap kering (tamsilan orang yang berpaling dari petunjuk Al-Qur'an dan Hadis). Kita termasuk jenis tanah yang mana?

Ada cerita tentang seorang pria yang malas belajar tafsir Al-Qur'an tapi suka sekali mencocok-cocokkan ayat secara serampangan (ilmu cocoklogi). Suatu hari, dia memprotes seorang ustadz karena melarangnya makan berlebihan sampai perutnya buncit. Si pria berkata, "Ustadz, jangan melarang saya makan banyak. Di Al-Qur'an kan tertulis jelas: 'Kuluw wasyrobuw' yang artinya 'Makan dan minumlah!'. Jadi saya hanya sedang menjalankan perintah wajib dari Al-Qur'an secara totalitas, Ustadz!" Sang ustadz tersenyum dan menjawab, "Betul, Nak. Tapi tolong baca lanjutannya: 'Walaa tusrifuu', artinya 'dan jangan berlebihan'. Kalau kamu potong ayatnya sampai di situ saja demi nafsu makanmu, khawatirnya nanti kalau kamu baca ayat 'Wailul lil mushollin' (Celakalah bagi orang-orang yang shalat), kamu malah mutusin buat berhenti shalat selamanya karena takut celaka!"

Hikmahnya: Al-Qur'an dan Hadis adalah sumber ilmu yang utuh, tidak bisa dipahami sepotong-sepotong sesuai selera dan kepentingan pribadi kita. Memahami petunjuk Allah butuh bimbingan para ulama dan ketekunan belajar, bukan sekadar modal tebak-tebakan logikanya sendiri.

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , Al-Qur'an dan Hadis telah memberikan garansi kedudukan yang amat tinggi bagi ilmu pengetahuan. Islam bukanlah agama yang memisahkan antara kesalehan spiritual dan kecerdasan intelektual; keduanya berjalan seiring. Menjadi hamba yang bertaqwa berarti menjadi hamba yang terus mengasah akalnya dengan ilmu dan melembutkan hatinya dengan iman. Mari kita jadikan Al-Qur'an dan Hadis sebagai kompas utama kita dalam membaca tanda-tanda kebesaran-Nya di jagat raya ini.

Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan hati kita, meluaskan pemahaman kita terhadap kandungan mukjizat kitab suci-Nya, dan mengumpulkan kita bersama golongan para nabi dan ulama di surga kelak.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie