Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Mukaddimah

Secara psikologi spiritual, sebuah hubungan akan mengalami kejenuhan jika hanya berpusat pada dua manusia. Manusia adalah makhluk yang dinamis dan penuh kekurangan. Namun, ketika sebuah pasangan menghadirkan Pihak Ketiga Yang Maha Sempurna, yaitu Allah SWT, maka hubungan tersebut berubah dari sekadar interaksi sosial menjadi Ibadah Transendental. Kehadiran Allah berfungsi sebagai "stabilisator emosi". Saat suami melayani istri atau sebaliknya, otak tidak lagi hanya memprosesnya sebagai kewajiban, melainkan sebagai pelepasan hormon kebahagiaan karena jiwa merasa sedang "berkomunikasi" dengan Sang Pencipta melalui pengabdian kepada sesama.

Dalil Al-Qur'an dan Hadis

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-Furqan [25]: 74)

إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ

"Jika seorang laki-laki memberi nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka nafkah itu bernilai sedekah baginya." (HR. Bukhari & Muslim)

2. Pelajaran dan Pesan

Inti dari pernikahan Islami bukanlah tentang "siapa yang menguasai siapa", melainkan tentang "siapa yang paling takut kepada Allah dalam memperlakukan pasangannya". Kehadiran Allah adalah benteng dari kezaliman. Seorang suami tidak akan membentak istrinya karena ia tahu Allah sedang mendengar, dan seorang istri tidak akan mengabaikan suaminya karena ia tahu Allah sedang melihat. Pernikahan adalah madrasah untuk belajar menjadi hamba yang lebih baik.

Ada sebuah kisah tentang seorang istri yang suaminya baru saja kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin. Alih-alih mengeluh, sang istri setiap pagi tetap mencium tangan suaminya dengan penuh hormat. Saat suami bertanya dengan suara bergetar, "Kenapa kamu masih begitu hormat padahal aku tak punya apa-apa lagi?", istrinya menjawab, "Aku mencintaimu karena Allah. Selama Allah masih ada di antara kita, dan selama kamu masih menjadi hamba-Nya yang taat, bagiku kamu tetap raja di rumah ini. Rezeki bisa dicari, tapi keridhaan Allah melalui kamu adalah tujuanku." Itulah kehadiran Allah yang melampaui angka-angka di rekening bank.

Pernikahan itu ibarat sebuah Segitiga Sama Kaki. Allah berada di puncak segitiga, sedangkan suami dan istri berada di dua sudut alasnya. Semakin suami dan istri mendekat ke puncak (mendekat kepada Allah), maka secara otomatis jarak antara suami dan istri pun akan semakin dekat. Tidak mungkin seseorang merasa dekat dengan Allah namun ia menjauh dan kasar kepada pasangannya.

Seorang suami pernah curhat, "Ustadz, semenjak saya belajar bahwa Allah hadir di antara kami, saya jadi takut mau marah kalau masakan istri keasinan." Ustadz bertanya, "Kenapa? Takut berdosa?" Suami menjawab, "Bukan hanya itu, Ustadz. Saya mikir, kalau saya protes, jangan-jangan Allah bilang ke saya: 'Wahai hamba-Ku, Aku saja memaafkan dosa-dosamu yang seluas samudera, masa kamu tidak bisa memaafkan garam yang cuma sesendok?' Akhirnya, saya habiskan masakan itu sambil tersenyum meski tensi saya naik!"

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia ,Kesimpulannya, hal teragung dalam pernikahan bukanlah kemewahan resepsi atau kecantikan rupa, melainkan kesadaran bahwa Allah hadir di tengah kita. Jika Allah yang menjadi tujuan, maka melayani pasangan adalah jalan menuju surga, dan menahan diri dari menzalimi pasangan adalah bukti ketakwaan. Mari hadirkan Allah dalam setiap helai nafas rumah tangga kita, agar sakinah bSukan sekadar kata, melainkan rasa yang nyata.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Abu Sultan Al-Qadrie