Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

1. Pengantar

Sahabat yang dirahmati Allah, khususnya para ibu dan pejuang keluarga yang luar biasa. Pernahkah terbersit di dalam hati keinginan yang kuat untuk duduk tenang di majelis taklim desa, mengeja ayat-ayat Al-Qur'an dengan tartil, atau menghafal surah-surah pendek? Namun, belum sempat melangkah, tugas domestik rumah tangga dan urusan membantu ekonomi keluarga sudah memanggil. Cucian yang menumpuk, masakan di dapur, hingga urusan mencari tambahan nafkah seolah mengunci langkah. Hambatan eksternal berupa keterbatasan waktu karena tugas rumah tangga dan membantu ekonomi keluarga ini sering kali menyisakan rasa bersalah, "Ya Allah, apakah aku berdosa karena lebih banyak memegang sodet dan sapu daripada memegang mushaf-Mu?"

Secara sosiologi masyarakat dan manajemen peran, beban ganda yang dipikul oleh seorang ibu di pedesaan sering kali menguras energi fisik secara ekstrem. Namun secara spiritual-ilmiah, Islam adalah agama yang sangat adil. Allah SWT tidak pernah memisahkan kesucian ibadah di dalam masjid dengan keluhuran bakti seorang istri atau ibu di dalam rumah tangga. Mengurus rumah tangga dan membantu ekonomi keluarga dengan niat menjaga kehormatan rumah tangga adalah ibadah mandiri yang pahalanya setara dengan jihad.

Mari kita sejukkan jiwa kita dengan firman Allah SWT yang menegaskan bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan untuk keluarga, sekecil apa pun itu, tidak akan pernah disia-siakan oleh Allah:

فَٱسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّى لَآ أُضِيعُ عَمَلَ عَٰمِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ۖ بَعْضُكُم مِّنۢ بَعْضٍ

"Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain (QS. Ali 'Imran: 195)

Bagi para ibu yang jemarinya kasar karena bekerja, namun lisannya tetap basah berzikir dan hatinya rindu pada Al-Qur'an, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bahwa ketaatan dan pelayanan tulus di dalam rumah tangga adalah pembuka pintu surga dari arah mana saja yang mereka sukai:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

"Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.'" (HR. Ahmad)

2. Pelajaran dan Pesan

Al-Qur'an diturunkan bukan untuk menjauhkan kita dari tanggung jawab hidup, melainkan untuk menjadi ruh di dalam tanggung jawab tersebut. Ketika seorang ibu memasak sambil melafalkan surah Al-Ikhlas, atau seorang ayah memeras keringat di ladang sambil mengingat ayat-ayat Allah, sejatinya mereka sedang membumikan Al-Qur'an di dalam kehidupan nyata. Waktu yang sempit bukanlah penghalang, melainkan penyaring keikhlasan yang murni.

Di sebuah pengajaran Al-Qur'an di sebuah desa, ada seorang ibu paruh baya yang selalu datang terlambat ke majelis. Pakaiannya terkadang masih menyisakan bau asap dapur atau getah kebun, dan tangannya tampak kasar berkerut. Suatu hari, saat giliran beliau membaca, suaranya terbata-bata dan matanya berkaca-kaca karena kelelahan setelah seharian mengurus rumah dan membantu suaminya di sawah.

Selesai mengaji, ia mendekati gurunya sambil menangis terisak dan berbisik, "Ustaz, mohon maafkan saya. Saya sangat ingin lancar membaca Al-Qur'an seperti ibu-ibu yang lain. Tapi waktu saya habis di dapur dan di ladang untuk menyambung hidup anak-anak kami. Setiap kali saya membuka mushaf di malam hari, mata saya langsung perih dan tertidur karena kelelahan." Ia memeluk mushafnya yang sudah usang dengan penuh rasa bersalah. Sungguh pemandangan yang menyayat hati, sebuah tangisan rindu dari jiwa yang terbelenggu oleh keterbatasan urusan duniawi yang mulia.

Belajar Al-Qur'an di sela-sela padatnya tugas rumah tangga dan ekonomi itu ibarat kita sedang menabung uang recehan logam Rp500-an ke dalam celengan celeng plastik. Orang yang punya waktu luang banyak itu seperti orang kaya yang bisa langsung memasukkan uang selembar seratus ribu sekaligus ke dalam celengan; celengannya cepat penuh dan bunyinya mantap.

Nah, sedangkan ibu-ibu yang sibuk? Tabungannya cuma recehan! Habis nyuci piring, dapat waktu dua menit, baca satu ayat, cring... masuk satu koin. Habis goreng ikan, sambil nunggu minyaknya panas, ngeja satu huruf, cring... masuk satu koin lagi. Mau tidur dalam kondisi ngantuk berat, sempat membaca surah Al-Fatihah, cring... koin ketiga masuk.

Secara kasat mata, tabungan recehan ini kelihatannya lama penuhnya. Tapi tahu tidak? Celengan yang isinya uang logam recehan itu kalau digoyang-goyang, bunyinya jauh lebih ramai dan kalau diangkat, beratnya minta ampun, bahkan bisa bikin jebol lantainya! Begitulah tamsilan pahala ibu-ibu di desa. Satu ayat yang dibaca dengan sisa tenaga yang gemetaran dan waktu yang terjepit, bobot pahalanya di timbangan mizan Allah bisa jadi jauh lebih berat daripada orang yang membaca satu juz penuh tapi sambil leyeh-leyeh di sofa empuk tanpa beban hidup!

3. Kesimpulan dan Penutup

Saudara dan saudari yang berbahagia , terkhusus para ibu pejuang keluarga, jangan pernah berkecil hati atas keterbatasan waktumu. Allah Maha Tahu bahwa peluh yang menetes saat kamu mengurus anak dan suamimu adalah tasbihmu, dan setiap rupiah yang kamu bantu cari demi ekonomi keluarga adalah sedekahmu.

Jangan tunggu waktu luang untuk menyapa Al-Qur'an. Cukup selipkan ia di sela-sela jemarimu yang lelah. Bacalah walau hanya satu ayat di sela masakanmu, dengarkanlah lantunannya saat kamu merapikan rumah. Karena sesungguhnya, kelelahan fisikmu dalam berbakti kepada keluarga, jika dipadukan dengan kerinduan hatimu pada Al-Qur'an, akan menjadi sayap indah yang menerbangkanmu langsung menuju surga-Nya.

والله أعلم بالصواب

الحمد لله رب العالمين

Wassalamu’alaikum Warahmaullahi Wabarakatuh.

ِAbu Sultan Al-Qadrie